Aneh, Aneh, dan Aneh

Apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bisa diam saja. Tidak banyak kata-kata yang bisa aku katakan. Paling, hanya sekadar untuk menjawab pertanyaan dan berbicara hal-hal yang penting. Selepas dari itu, aku diam.
Kadang-kadang, aku sempat bercanda dengan teman sebaya. Ketika bercanda, orang-orang mungkin menganggap aneh. Sehingga apapun bahan candaan yang aku pakai, tidak akan lucu sama sekali.
Apalagi untuk memulai percakapan, aku nggak bisa. Rasanya, suaraku sangat berat untuk dikeluarkan. Aku jadi bingung tanpa sebab.
Kalau berbicara dengan orang yang baru kenal, aku sangat tegang. Tapi, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Seakan-akan hal ini menyebabkan aku takut untuk berkomunikasi.
Komunikasi dan sosialisasiku tidaklah banyak. Dan itu sebabnya aku tidak memiliki wawasan yang luas. Memang sih aku kuat dalam suatu hal, tapi aku lemah dalam wawasan umum. Aku nggak tau bagaimana bersosialisasi, aku nggak tau apa yang dirasakan temanku. Aku ingin untuk mempelajarinya, tapi aku takut. Takut kalau aku salah mengambil tindakan. Aku takut aku dibenci orang lain. Berharap semoga tidak ada yang membenciku.
Hal kedua yang teraneh adalah orang lain. Ya, orang lain. Setiap hari aku sangat malu. Aku tidak ingin dikenal banyak orang dan tidak ingin menjadi terkenal. Aku sangat ingin kembali pada saat SD dulu, dimana setiap orang tidak segan kepadaku dan kami sering bermain dan bercanda bersama-sama. Pada saat itu, hatiku sangat senang sekali. Tidak ada beban yang harus aku tanggung. Tapi sekarang berubah. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara agar orang menghilangkan keseganan kepadaku.
Aku nggak ingin dipuji. Bagiku pujian sama dengan menjatuhkan orang lain. Ketika kita termakan pujian, maka kita akan menjadi lebih fokus terhadap hasil akhir. Kita akan menginginkan hasil akhir yang lebih baik lagi dan mengabaikan prosesnya. Padahal, proses yang merupakan kunci utama dalam berusaha. Dari sana, kita belajar melalui percobaan, kesalahan, dan kegagalan. Ketika kita hanya memikirkan hasil akhir, kita akan cenderung ingin menjadi sempurna tanpa kesalahan yang pada akhirnya malah menghambat perkembangan belajar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: