Saran dari Siswa

Aku adlah seorang murid SMP. Aku telah menyadari beberapa hal. Yang aku suka dan yang aku nggak suka. Mulai dari lingkungan sekolah, teman, sampai guru. Menurutku, guru adalah unsur terpenting dari hidupku selama di sekolah. Jadi, aku nggak mau kalau guru itu memiliki kebiasaan dan sifat yang buruk. Itu, sebabnya aku menulis artikel ini. Untuk memberi pesan dan saran kepada guru agar tidak menyimpang. Aku nggak bermaksud menggurui, tapi hanya memberi saran.
“Mengapa perbuatan guru itu sangat penting?”
Mengingat bahwa guru itu adalah contoh bagi muridnya. Setiap apa yang dibuat, kemungkinan besar akan ditiru oleh muridnya. Diibaratkan siswa itu sebagai ‘copycat’, mereka masih dalam tahap mencontoh. Mereka dapat memutuskan apakah suatu hal benar atau salah dari orang-orang sekitarnya, termasuk gurunya. Ya, memang sih jadi guru itu merupakan tanggung jawab yang sangat besar, karena perbuatan baiknya akan ditiru oleh puluhan bahkan ratusan orang, samah halnya juga dengan perbuatan buruk, akan ditiru oleh ratusan orang. Jadi, aku harap jangan salah gunakan jabatan guru. Kalau memang tidak sanggup menjaadi guru, lebih baik berhenti, atau akan banyak orang yang menuju kesesatan akibat guru.
“Jadi bagaimana menjadi ‘guru’?”
Menurutku, guru itu harus sempurna, tidak memiliki sisi buruk. Walaupun aku tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna di bumi ini. Tapi, berusahalah untuk menjadi sempurna. Paling tidak, ‘sempurna di depan murid’. Sempurna yang aku maksud, mencakup segala hal, mulai dari teknik pengajaran, tingkah laku, sifat, menguasai pelajaran yang ia berikan, dekat dengan siswa, dan yang lainnya.
Jangan sampai ada satu orang siswa pun yang benci kepadamu (guru). Karena apabila sudah benci, apapun yang kamu berikan kepadanya, yang bisa berupa ilmu pengetahuan atau akhlak yang mulia, tidak akan diterimanya. Itu adalh hal yang tidak baik, walaupun hanya satu orang, itu sangat berarti. Pernah ada suatu kejadian, dimana aku yang dulu sangat suka kepada seorang guru. Tapi sekarang kesukaanku sudah hilang, karena aku merasa ada kesalahan yang dia perbuat.
Sebenarnya aku nggak suka hukuman. Apalagi aku baru tahu dari seorang guru, mengapa dia menghukum dan mumukul muridnya. Dia menjawab bahwa itu untuk melampiaskan emosinya yang tinggi. Jelas itu sebuah kesalahan yang sangat besar dan jauh menyimpang. Memang sih, menghukum itu boleh, tapi harus diperhatikan apa tujuan dari menghukum murid tersebut. Pasti kita menginginkan siswa itu akan mengubah sifat atau perilaku jeleknya tersebut kan? Jadi apa perlu kita menghumnya sekeras-kerasnya, tapi tidak ada perubahan bagi diri siswa tersebut? Apalagi kita sudah tahu, bahwa apabila seorang siswa sudah benci kepada gurunya maka apapun yang dikatakan gurunya tidak akan dipedulikan oleh muridnya. Ini nggak bohong, karena aku adalah seorang siswa, jadi aku mengerti bagaimana perasaan-perasaan mereka. Sebaiknya, hukumlah mereka sewajarnya, sesuai dengan kesalahan yang mereka perbuat. Dan bila perlu, berikan kata-kata pemanis setelah kita menghukum mereka, seperti, “Aku tahu kamu adalah anak yang baik. Jadi, aku yakin kamu pasti bisa mengubah sikapmu / perilakumu itu.” *sambil bersalaman dengan si anak tersebut*. Dengan begitu, pasti ada niat untuk berubah di dalam dirinya. Daripada menghukum mereka secara nggak jelas.
Aku tahu, sebenarnya semua guru itu sayang kepada murid-muridnya. Walaupun terkadang ada sebagian guru yang tidak menunjukkan rasa kasih sayang tersebut. Itu membuat siswa bertanya-tanya, apakah guru ini sayang kepadaku. Sebaiknya sebagai guru tunjukkan rasa kasih sayang tersebut. Mungkin itu bisa menambah motivasinya lagi untuk belajar.
Dan satu hal yang lebih penting, jangan membeda-bedakan murid yang satu dengan yang lainnya. Karena itu akan menurunkan semangat belajar para murid.
Selaain dalam sikap, seorang guru juga harus bisa menguasai kelas, menguasai materi pelajaran, dan metode pengajaran. Aku pernah menemukan seorang guru yang lagi asik menerangkan materi pembelajaran tanpa mempedulikan apakah siswanya mengerti apa yang diajarkannya. Guru tersebut mengajarkan semua yang diketahuinya tanpa mempedulikan batas kemampuan siswa. Ingat, jangan bandingkan kemampuan mereka (siswa) dengan kemampuan kita yang jauh di depan. Walaupun aku tahu, setiap guru pasti menginginkan pada suatu saat nanti, siswanya harus lebih pintar darinya. Tapi kita tidak perlu langsung memberikannya materi yang rumit. Semua ada tahap-tahapnya. Ikuti tahapnya dan kamu akan jadi guru yang berhasil.
Cari cara agar materi yang kita sampaikan mudah untuk dipahami siswa, itulah metode pengajaran yang baik. Anggap saja semua murid masih belum mengerti materi yang akan dipelajari. Sehingga pada akhirnya nanti, siswa yang tidak mengerti apa-apa sedikitpun akan menjadi mengerti karena pelajaran kita mulai dari yang paling dasar. Secara bertahap-bertahap ajari siswa materi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Agar siswa yang memiliki bakat dapat termotivasi dan tidak mudah bosan dan jenuh terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini, diharapkan guru harus memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luas. Sebagai contoh, guru fisika SMP harus mengerti dan hafal pelajaran fisika SMA walaupun tidak pernah menjadi guru SMA.
Aku juga pernah bertemu dengan guru yang bisa dibilang sok pintar tapi pelupa. Sering mengajarkan pelajaran yang di luar dari materi, tapi sering salah-salah dalam memberikan materi tersebut. Awalnya, aku sering menyanggah pendapat guru tersebut. Tapi lama kelamaan aku bosan untuk menyanggahnya, jadi aku sering membiarkan apa yang dibilang guru tersebut. Dan akibatnya, aku rada-rada kurang percaya terhadap materi yang diberikan oleh guru tersebut. Mungkin itu akibatnya bagi guru yang belum menguasai pelajarannya dengan baik. Sehingga benar pun yang disampaikan oleh guru tersebut, tapi apabila siswa sudah terlanjur tidak percaya dengan guru tersebut, itu nggak akan ada gunanya.
Sebagai penutup, aku akan menyampaikan kata-kata bijak dari seorang filsuf:
“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself” – Leo Tolstoy (1828 – 1910) yang berarti “Setiap orang berpikir mengubah dunia, tapi tiada seorang pun yang berpikir mengubah dirinya sendiri”. Maksudnya, sebelum kita menginginkan orang lain untuk berubah, termasuk siswa kita, kita harus mengoreksi diri kita dan memperbaikinya. Aku ulangi sekali lagi, artikel ini bukan bermaksud untuk menggurui guru, tapi hanya sekadar saran dari saya sebagai siswa SMP. Maju terus guru Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: