Proses Belajar yang Baik (Karya Ilmiah)

Sebenarnya ini udh pernah diposting sebelumnya. Tapi, karena waktu itu aku lagi sibuk, jadi postingannnya cukup jelek dan nggak enak dibaca. Nah, pada postingan inilah perbaikannya, intinya dibuat ulang (bukan di-edit).

Ini merupakan karya ilmiah pertamaku pada saat tugas pelajaran bahasa Indonesia waktu SMP dulu. Proses pembuatannya nggak lama, kurang-lebih satu bulan. Oh iya, tulisan ini murni hasil pikir gw sendiri. Ditambah beberapa sumber untuk memperkuat argumenku sih. Jadi maaf kalo isinya jelek.

Gambaran Singkat :
– Manfaat belajar
– Definisi belajar
– Faktor pendukung belajar
– Cara belajar yang baik

PROSES BELAJAR YANG BAIK

BAB I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Banyak pelajar yang merasa kesulitan dalam belajar. Hal itu dapat menimbulkan kebosanan dan kadang menimbulkan depresi bagi dirinya sendiri.  Kebosanan dan depresi tersebut dapat membuat pelajar menjadi jadi malas belajar. Jika malas, tentu akan mengalami kegagalan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kesulitan dalam belajar berpotensi besar untuk menghalangi kita menuju kesuksesan.

Setelah diteliti, ternyata masih banyak pelajar yang belajar dengan cara yang salah, seperti belajar dengan menghapal konsep (Low Thinking Order). Padahal, jauh lebih baik apabila belajar dengan memahami konsep, mengembangkan nalar, memecahkan masalah, dan berpikir logika (High Thinking Order). Parahnya, banyak pelajar yang berprinsip “belajar untuk ujian”, yang jelas-jelas merupakan kesalahan besar.

Permasalahan yang diambil disini adalah pelajar yang menggunakan cara belajar yang salah, seperti beberapa contoh  yang sudah dipaparkan. Dalam pemecahan masalahnya, diharapkankan pelajar mengetahui cara-cara belajar yang baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa manfaat belajar?
1.2.2 Apa definisi belajar?
1.2.3 Apa faktor-faktor pendukung belajar?
1.2.4 Bagaimana cara belajar yang baik?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.3.1 Tujuan Penulisan

Tujuannya adalah mengajak pelajar untuk belajar dengan cara yang baik. Selain itu, tujuannya adalah untuk memberitahu berbagai macam hal yang berhubungan dengan belajar baik di sekolah maupun di rumah.

1.3.2 Manfaat Penulisan

Manfaatnya agar pelajar tidak lagi kesulitan dalam belajar sehingga dapat meraih kesuksesan dengan mudah.

1.4 Kerangka Pemikiran

“Kita tidak berpikir dengan cara linear berurutan, namun setiap informasi yang disampaikan pada kita diberikan pada kita dengan cara linear…. kita diajari untuk berkomunikasi dalam cara yang sebenarnya membatasi kemampuan berpikir kita” – Richard Saul Wurman, Information Anxiety

“Kegilaan adalah ketika orang melakukan suatu hal yang sama, tetapi menginginkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein

Dua kutipan tersebut sangat berhubungan dengan apa yang dibahas. Yaitu mengenai cara belajar yang lebih baik dan inovatif sehingga dapat mencapai kesuksesan.

1.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam karya ilmiah ini, data dikumpulkan melalui sumber kepustakaan, yaitu berupa bahan-bahan bacaan seperti kamus, buku, koran, atau majalah. Selain itu, data juga dikumpukan dengan menjelajahi internet.

BAB II : Pembahasan

2.1 Manfaat Belajar

Sebagian orang berpendapat bahwa tingkat kepintaran manusia sudah diciptakan sejak manusia lahir. Ya, memang. Bakat manusia sudah diciptakan sejak manusia lahir. Tapi bakat tersebut masih bernilai nol karena masih belum terlihat. Artinya, bakat sejak lahir hanya merupakan potensi saja. Bakat akan terlihat apabila dikembangkan, diasah, dan dilatih. Dengan kata lain, belajar akan mengembangkan bakat.

Otak merupakan sistem saraf pusat yang memiliki jutaan neuron. Banyak informasi yang tersimpan di neuron. Ketika otak bekerja untuk bernalar, memahami, dan menyimpan informasi, maka dendrit yang terdapat di neuron yang bentuknya bercabang-cabang akan meningkat jumlahnya. Sebaliknya, ketika otak tidak dipergunakan, maka neuron akan memangkas dendrit-dendrit tersebut sehingga berkurang jumlahnya.

” Sebuah penelitian yang menyatakan bahwa otak adalah suatu organ yang dinamis : Jaringannya secara terus menerus dimodifikasi sebagai reaksi dari informasi, kebutuhan, dan perubahan dalam lingkungan.”
(Carole Wade, Psikologi : Edisi 9 Jilid 1)

Di zaman yang maju ini, penuh dengan kompetisi. Dimana orang yang tidak berilmu akan  merasa kesulitan dalam hidupnya. Maka dari itu, belajar sangatlah penting, baik formal maupun informal. Belajar mengajak kita untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah.

Perlu diingat, tidak ada kata “tidak bisa” dalam belajar. Banyak tokoh-tokoh dunia yang pada saat kecil dianggap bodoh dan tidak waras. Contohnya, Einstein dan Thomas Alfa Edison. Pada saat Einstein kecil, orang-orang di sekelilingnya mencapnya sebagai orang bodoh. Bahkan, Thomas Alfa Edison dikeluarkan dari sekolahnya sewaktu SD karena terlalu bodoh. Tapi sekarang ini, Einstein dikenal sebagai Bapak Fisika Modern dan Thomas Alfa Edison adalah ilmuan fisika yang paling banyak menemukan penemuan.

2.2 Definisi Belajar

Belajar adalah proses memahami yang mengakibatkan perubahan yang relatif permanen yang tidak bisa dilihat secara langsung (masih berupa potensi) maupun bisa dilihat dari perubahan tingkah laku. Belajar dapat berupa pengalaman, pengamatan, eksperimen, praktik, mengingat, diajari individu lain, membaca, dan lain-lain. Terkadang, belajar dapat menimbulkan perasaan bangga dalam diri sendiri karena paham dan mengerti apa yang dipelajari.

Apakah menghapal termasuk dalam kategori belajar?

Menghapal dapat digolongkan dalam belajar maupun tidak. Karena menghapal dapat memberikan perubahan bagi kita. Namun, apakah dengan cara menghapal kita bisa mengingat informasi secara permanen? Secara umum, mengapal dilakukan dengan cara mengingat kata perkata dan berurutan. Otak besar manusia terbagi 2, yaitu otak kiri dan otak kanan. Informasi berupa kata dan berurutan diproses oleh otak kiri karena otak kiri memang berfungsi untuk memproses informasi berupa angka, kata, berurutan, dan logika. Sedangkan otak kanan berfungsi untuk memproses informasi berupa gambar, musik, acak-acak, dan imajinatif. Otak kiri bersifat ‘short-term memory ‘ (memori jangka pendek), sedangkan otak kanan bersifat ‘long-term memory’ (memori jangka panjang).

Telah diketahui bahwa  belajar mengkibatkan perubahan yang relatif permanen. Jadi, menghapal tidak digolongkan dalam belajar apabila tidak menghasilkan perubahan yang relatif permanen. Dengan kata lain, menghapal tidak termasuk belajar apabila dilakukan dengan mengingat angka dan kata yang berurutan (diproses oleh otak kiri). Sebaliknya, menghapal termasuk dalam belajar apabila dilakukan dengan mengingat dengan gambar, suara, dan imajinatif. Mengahapal dengan menggunakan otak kanan dilakukan dengan cara-cara tertentu yang akan dibahas pada subbab selanjutnya.

Selanjutnya, mari kita bahas landasan teori sebelumnya di dalam karya ilmiah ini :

“Kita tidak berpikir dengan cara linear berurutan, namun setiap informasi yang disampaikan pada kita diberikan pada kita dengan cara linear…. kita diajari untuk berkomunikasi dalam cara yang sebenarnya membatasi kemampuan berpikir kita” – Richard Saul Wurman, Information Anxiety

Artinya, kita tidak bisa  belajar dengan menerima informasi secara datar dan berurutan. Contohnya, belajar dengan mendengarkan orang berceramah, membaca buku yang penuh dengan tulisan tanpa gambar, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan bertentangan dengan cara kerja otak manusia  yang bersifat meluas, abstrak, dan acak-acak. Sehingga kita memerlukan cara belajar yang terbaru (baik) yang dapat selaras dengan cara kerja otak kita.

“Kegilaan adalah ketika orang melakukan suatu hal yang sama, tetapi menginginkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein

Dalam hal belajar, hal ini berarti jika kita ingin mendapatkan hasil yang lebih baik maka kita harus mengubah gaya belajar dan strategi belajar yang inovatif dan lebih baik. Dengan kata lain, gaya belajar merupakan faktor penting dalam belajar yang akan dibahas pada subbab selanjutnya.

2.3 Faktor-Faktor Pendukung Belajar

Sebelum membahas gaya belajar, lebih baik membahas tentang kondisi dan lingkungan belajar. Lingkungan belajar sangat penting untuk diketahui, bahkan lebih penting daripada gaya-gaya belajar. Hal ini dikarenakan otak tidak bisa berproses dengan baik pada lingkungan belajar yang buruk.

Kita tidak dapat belajar dalam keadaan tertekan, emosi tidak stabil, stres, pikiran kacau, dan berpikiran negatif. Hal itu menghambat otak untuk berpikir lebih luas dan kreatif. Jadi, jika ingin belajarnya baik, tenangkanlah diri sebentar untuk menstabilkan diri.

Cara yang digunakan untuk menenangkan diri pada saat sedang stres ada banyak. Namun, ada sebuah cara yang disukai oleh penulis dalam menenangkan diri. Caranya adalah mengatur pola pernapasan atau lebih dikenal sebagai ‘meditasi’. Mengapa demikian? Coba perhatikan pada saat manusia sedang marah (emosi tidak stabil). Yang terlihat adalah pola pernapasannya menjadi tidak teratur. Sebaliknya, coba perhatikan pada saat manusia dalam keadaan biasa saja, maka pola pernapasannya akan menjadi sangat teratur. Meditasi sungguh sangat bermanfaat terutama untuk merelaksasikan diri. Penelitian mempercayai ingatan, perhatian, dan fokus merupakan keuntungan dari meditasi.

Proses pola perpasan yang baik adalah pola pernasan yang bisa membuat manusia tersebut menjadi nyaman. Boleh dengan bernapas panjang, bernapas sedang, ataupun bernapas pendek. Hal tersebut dilakukan sambil memfokuskan diri ke pernapasan tersebut. Suatu penelitian menunjukkan membiasakan diri dalam bermeditasi dapat memperbesar ukuran ‘cerebral cortex’ pada otak.

Hal itu merupakan cara mengatasi jika merasa tertekan dalam belajar. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Jadi bagaimana cara mencegahnya? Sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu apa penyebab kita menjadi tertekan dalam belajar.

Secara umum, hal yang dapat membuat kita menjadi tertekan dalam belajar dapat terbagi menjadi 2, yaitu :
1. Lingkungan fisik
2. Lingkungan sosial

Lingkungan fisik contohnya adalah suhu udara, pencahayaan, tingkat kebisingan, dan rangsangan visual. Sedangkan lingkungan sosial contohnya adalah hubungan dengan orang lain, merasa ikut atau tidak diikutsertakan, dan komunikasi.

“Iklim dan lingkungan ruang kelas harus kondusif untuk pembelajaran. Ruang kelas, yang secara fisik tidak nyaman atau terus memiliki atmosfir atau nada yang mengancam, akan meminimkan kemampuan otak para siswa untuk berpotensi pada potensi yang tertinggi. Pemahaman beberapa riset terbaru tentang bagaimana otak kita bereaksi terhadap stres dan ketakutan dapat menolong para guru untuk mengetahui apa yang harus tidak dilakukan dan mulai tahu apa yang harus dilakukan.”
(Kaufeldt 1999, 2)

Jelas bahwa ancaman, tekanan, dan kondisi lingkungan yang buruk dapat menurunkan kemampuan otak. Ketika itu, hampir semua otak manusia menjadi berkurang kemampuannya untuk melakukan salah satu dari hal-hal berikut untuk :
– Menjadi kreatif
– Melihat atau mendengar petunjuk tanda dari lingkungan
– Mengingat dan masuk pembelajaran sebelumnya
– Melakukan tugas-tugas yang kompleks, pemikiran yang terbuka, dan bertanya
– Memilah dan menyaring untuk membuang keluar data yang tidak berguna
– Merencanakan dan mengulang berlatih secara mental
– Mengenali pola-pola
– Berkomunikasi dengan efektif

Menciptakan lingkungan yang aman dan terjamin secara fisik, emosional, dan sosial, harus menjadi langkah pertama dalam memaksimalkan pembelajaran.

Bagaimana cara mencegahnya? Berikut adalah pencegahan permasalahan lingkungan dalam belajar :

Lingkungan Fisik

Pencahayaan

Cahaya yang paling baik untuk belajar adalah cahaya yang berasal dari matahari. Oleh karena itu, belajar di tempat terbuka adalah cara yang terbaik. Tapi apabila tidak memungkinkan, belajar mandiri dengan menggunakan lampu belajar juga baik agar kita fokus terhadap buku yang kita baca. Jika belajar di sekolah, lebih baik memakai cahaya matahar. Namun, jika masih gelap, gunakan lampu neon dengan jumlah yang cukup.

Kebisingan

Jika belajar mandiri, usahakan menjauhkan diri dari keramaian orang. Bunyi-bunyi mengganggu yang berasal dari alat-alat listrik juga perlu dihindari. Namun, bagaimana jika di sekolah? Guru dan ketua kelas harus mampu membuat kelas menjadi tenang (tidak bising). Selain itu, diharapkan juga dapat melarang bernyanyi dan bermain alat musik di ruang kelas umum. Sebaiknya, bermusik dilakukan di kelas musik atau kesenian (jika ada).

Rangsangan Visual

Lingkungan belajar harus tertata dengan rapi. Meja belajar dan rak buku juga harus rapi. Selain itu kebersihan dan keindahan perlu diperhatikan. Warna dapat mempengaruhi emosi bagi sebagian orang. Warna juga dapat merangsang kreativitas dan berpikir sebagian orang. Jadi, gunakan buku-buku berwarna dan alat tulis berwarna untuk merangsang berpikir.

Suhu dan Kualitas Udara

Di Indonesia, permasalahan yang dihadapi berupa suhu udara yang panas. Pada saat belajar mandiri, gunakan AC (Air Conditioner) selama proses belajar (jika ada). Tanam tanaman yang dapat menyegarkan udara di ruangan baik di halaman rumah ataupun di sekolah. Jika ruangan sekolah tersebut tertutup, maka gunakan AC. Usahakan gunakan pengharum ruangan juga karena bau dapat mengganggu belajar.

Kebutuhan-Kebutuhan Dasar

Contohnya minum, makan, dan buang air. Minum dapat membuat otak menjadi kembali segar. Buang air kecil atau besar pada saat waktunya juga akan membantu proses belajar agar nyaman. Melarang pelajar untuk buang air besar atau kecil dapat membuat pelajar tersebut tidak nyaman dalam belajar.

Lingkungan Sosial

Tidak Saling Bersaing

Rasa persaingan dapat mengecilkan luas pandang berpikir. Belajar yang baik adalah belajar tanpa ada persaingan. Saling membantu dan bekerjasama dalam belajar adalah cara terbaik.

Merasa Diikutsertakan dalam Suatu Kelompok Sosial

Membuat kelompok belajar dapat membuat seseorang merasa diikutsertakan. Hal itu dapat mengembangkan kemampuan belajar dan kreativitas. Sama halnya dalam berdiskusi, guru harus mampu membuat setiap pelajar merasa diikutsertakan. Caranya adalah dengan membuat kelompok diskusi. Di sini, diharapkan guru dapat membagi anggota kelompok berdasarkan keahliannya masing-masing dan dapat mengaktifkan peran serta setiap anggota dalam kelompok tersebut.

2.4 Cara Belajar yang Baik

Niat adalah hal yang penting sebelum belajar. Sebelumnya, kita sudah tahu bahwa dalam belajar kita harus bebas dari segala tekanan dan paksaan. Temukan waktu yang cocok sehingga nyaman dalam belajar.

Kepercayaan diri juga mempengaruhi proses belajar. Kita harus yakin bahwa kita bisa menguasai apa yang kita pelajari. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita tidak bisa dan tidak mampu karena pepatah mengatakan apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi. Oleh karena itu, hendaknya harus berpikir positif.

Cara yang cukup efektif dalam meningkatkan percaya diri dalam belajar bagi penulis adalah dengan mengasumsikan bahwa kita ahli dalam hal apa yang kita pelajari. Misalnya, pada saat kita belajar bahasa Jepang, kita harus memikirkan bahwa kita adalah orang jepang yang sangat mahir berbahasa Jepang. Sehingga kita dapat berpikir positif yang membawa dampak positif bagi pembelajaran kita.

Belajar yang baik adalah belajar dengan memahami apa yang dipelajari, bukannya menghapal apa yang dipelajari. Memahami memang terasa lebih sulit daripada menghapal. Hal itu disebabkan karena dalam memahami, kita harus memikirkan hubungan dari suatu persoalan dengan pengalaman kita, berimajinasi, berpikir logika, lalu menarik kesimpulan. Hal tersebut memerlukan proses yang cukup lama. Sedangkan dalam menghapal, kita hanya mengingat kata-kata yang dihapal tanpa perlu masuk ke persoalan.

Tapi, apa perbedaan dari hasil proses memahami dan menghapal? Dengan memahami kita mendapat informasi yang bersifat relatif permanen. Sedangkan dengan menghapal belum tentu informasi tersebut akan tersimpan relatif permanen.

Dari hal tersebut, kita harus bisa mendapatkan informasi dari sumber yang bersifat mengajarkan untuk memahami. Menurut penulis, ini adalah masalah terbesar bagi Indonesia, yaitu menemukan sumber informasi yang berkualitas, termasuk dalam hal buku teks, guru, dosen, dan lain-lain. Saran dari penulis, jika ingin menggunakan buku teks yang berkualitas, dapat dicari dengan melihat biografi penulis buku tersebut khususnya riwayat pendidikannya. Jika biografinya bagus, kemungkinan besar kualitas buku tersebut juga bagus.

Belajar yang baik juga dapat dilakukan dengan mendalami suatu permasalahan. Semakin dalam permasalahan yang kita pelajari, maka kita semakin menguasai permasalahan tersebut. Jika hanya memahami garis besar suatu permasalahan, kita tidak akan dapat menguasai permasalahan tersebut. Sebagai contoh, pada pelajaran IPA yang membahas tentang matahari. Jika kita hanya memahami informasi umum pada matahari, mungkin kita masih belum bisa menguasai materi tersebut. Namun, jika kita memahami informasi-informasi umum dan khusus, serta bagaimana proses cara mendapatkan informasi tersebut, kemungkinan besar kita dapat menguasai materi tersebut.

Sama seperti proses memahami vs menghapal. Mendalami permasalahan juga membutuhkan waktu yang cukup lama dan lebih sulit daripada hanya sekadar mengetahui garis besar permasalahan. Pesan dari penulis, jangan pernah patah semangat dalam belajar. Kita harus tetap bersemangat dan bersabar. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapat hasil yang cukup memuaskan apabila kita belajar dengan bersabar.

Dalam belajar, kita juga harus kreatif. Misalnya, dalam pelajaran matematika. Permodelan beberapa soal matematika biasanya terdapat kemiripan. Dengan begitu kita harus dapat menemukan cara menyelesaikan model soal yang sama dengan mudah, yaitu membuat rumus-rumus baru sesuai model soal tersebut.

Bagaimana jika kita merasa sulit untuk memahami suatu persoalan? Jika begitu, maka caranya adalah dengan menghapalnya. Namun, menggunakan cara menghapal yang berbeda dengan biasanya agar dapat menyimpannya secara relatif permanen. Berikut beberapa metode yang baik dalam menghapal :

Metode Chunking

Bagaimana cara anda menghapal nomor HP anda? Pasti, dengan memisahkannya menjadi beberapa bagian, kan? Kira-kira seperti itulah gambaran dari metode chunking. Metode ini berfungsi untuk menghapal konstanta fisika atau matematika yang berisi angka panjang. Contohnya, nilai konstanta gravitasi adalah 6,67035 x 10-11. Dengan menggunakan metode chunking, kita dapat memisahkan angka-anga tersebut sesuai keinginan kita. Misalnya, 6,67-0-35-10-11. Sehingga lebih mudah menghapalnya dibandingkan dengan sebelum dipisahkan.

Mencatat dengan Pulpen Berwarna

Informasi yang sangat sulit untuk dipahami dapat dihapal dengan mencatatnya dengan pulpen berwarna. Warna dipercaya dapat merangsang kerja otak kanan. Variasi warna yang baik dapat membantu mengorganisir informasi lebih baik.

Metode Asosiasi

Untuk menyimpan informasi secara relatif permanen dapat juga dilakukan dengan metode asosiasi. Metode asosiasi adalah menyamakan beberapa kata dengan kata-kata yang lain yang memiliki persamaan bentuk kata, lalu membuat akronimnya sehingga mudah dihapal. Contohnya, dalam pelajaran IPA kita belajar tentang struktur jaringan batang atau akar tumbuhan. Struktur jaringannya dari luar ke dalam, yaitu epidermis, korteks, endodermis, perisikel, floem, kambium, xylem, empulur. Tentu, jika kita menghapalnya secara biasa, maka suatu saat kita dapat melupakannya. Namun, dengan menggunakan metode asosiasi, kita dapat menyimpan informasi tersebut secara permanen. Caranya, epidermis = e, korteks =kor, endodermis = endo, perisikel = persis, floem = paha, kambium = kambing, xylem = siiy, empulur = em. Jika akroronim tersebut digabung, maka menjadi “EKor Endo Persis Paha Kambing SiiyEm”. Kelebihannya, dengan mengingat kalimat tersebut, kita dapat mengingat struktur jaringannya secara permanen.

Contoh lainnya adalah jika kita ingin mengingat unsur kimia golongan I-A, yaitu : Hidrogen (H), Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Sesium (Cs), Fransium (Fr). Dengan menggunakan metode asosiasi, kita dapat mengubahnya menjadi “Hari LIbur NAik Kuda RaBu CamiS FRee (Hari libur naik kuda rabu kamis free)”.

Selain memudahkan kita untuk mengingat, metode asosiasi juga mengajak kita untuk berpikir kreatif dalam membuat asosiasi. Menurut penulis, semakin aneh kalimat asosiasi yang dibuat maka semakin mudah untuk mengingat asosiasi tersebut. Jadi, mari berpikir kreatif!

Begitulah metode menghapal yang digunakan penulis. Namun, perlu diingat, metode menghapal ini hanya digunakan ketika kita tidak sanggup untuk memahaminya dan sangat sulit untuk mengingat informasi tersebut.

BAB III : Penutup

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Selain itu, belajar dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan cara yang menarik. Cara-cara tersebut dapat meningkatkan hasil yang kita peroleh dalam belajar. Beberapa faktor-faktor pendukung belajar juga sangat penting. Hal tersebut membantu kita agar belajar secara nyaman dan tanpa tertekan (stres).

3.2 Saran

Saran dari penulis adalah jangan pernah menyerah  dan putus asa dalam belajar. Tetap bersemangat dan terus belajar. Mengembangkan berbagai macam kreativitas dalam belajar. Dan memiliki gaya belajar yang lebih menarik. Semakin banyak kita menggunakan berbagai gaya belajar, maka semakin banyak yang akan dikuasai dari apa yang dipelajari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: