My Best Friend

Back then, I had a best friend. There was nothing special about him, he was just an ordinary guy. I’d changed my thinking about that after he introduced me his world, his dark and gloomy world to be exact. Then, I saw the world from his point of view. It was really terrible. I learned a lot from that, so many new things. The world with stereotypical things I knew changed drastically into a terrifying world which even I myself didn’t know if I could endure on it. That is exactly why I became his friend, it is because of to accompany him to go through his world together. I thought that I could lessen his burden by doing so. Nevertheless, that was not all about it. I could share everything on my mind with him too, something that I couldn’t do in my previous life.

Actually, I didn’t try to be an ally of justice, it was too childish. I just wanted to help him as his friend. I wanted him to live on the world of mine too, or to sense it at least. I felt that he was a part of myself. That means if he is sad, I will feel the same. I couldn’t imagine how much time I sacrificed to help him. I became more and more disorganized. But, I still couldn’t compare this to his world. That was why I still became his friend.

One day, there was a misunderstanding between us. Then, he hated me. He offended me. Of course, I was really angry. Then, I decided not to help him anymore and to end our friendship. On the other side, I still feel pity on him. I hope that he will find another friend who also care with him. I also hope that he will become a good person someday.

Terjemahan :

Sebelumnya, aku punya seorang sahabat. Tidak ada yang spesial darinya, dia cuma orang biasa. Pendapat saya itu berubah setelah dia memperkenalkan kepadaku dunianya, lebih tepatnya dunianya yang gelap dan suram. Kemudian, aku melihat dunia itu dari sudut pandangnya. Itu sangatlah buruk. Saya belajar banyak hal dari sana, begitu banyak hal. Dunia dengan hal-hal biasa yang aku tahu berubah secara drastis menjadi sebuah dunia menakutkan yang bahkan aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa bertahan di dalamnya. Itulah tepatnya mengapa aku menjadi temannya, yaitu karena untuk menemaninya melalui dunianya bersama-sama. Aku pikir bahwa aku dapat mengurangi bebannya dengan melakukannya. Namun, semuanya bukan karena itu. Aku bisa berbagi semua yang ada pikiranku dengannya juga, sesuatu yang tidak dapat aku lakukan di kehidupanku sebelumnya.

Sebenarnya, aku tidak mencoba menjadi seorang pahlawan kebenaran, itu terlalu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin menolongnya sebagai temannya. Aku menginginkannya untuk hidup di duniaku juga, setidaknya cukup merasakannya. Aku merasa bahwa dia merupakan bagian dariku. Itu berarti jika dia sedih, aku juga merasakan yang sama. Aku tidak dapat membayangkan berapa banyak waktu yang aku korbankan untuk menolongnya. Aku lama-kelamaan menjadi lebih tidak teratur. Tetapi, aku masih tidak dapat membandingkan hal ini dengan dunianya. Itulah alasannya mengapa aku masih menjadi temannya.

Suatu hari, ada suatu kesalahpahaman di antara kami. Lalu, dia membenciku. Dia menyakiti hatiku. Tentu saja, aku sangat marah. Lalu, aku memutuskan untuk tidak menolongnya lagi dan mengakhiri pertemanan kami. Di sisi lain, aku masih merasa kasihan kepadanya. Aku harap dia akan menemukan temannya yang lain yang juga peduli dengannya. Aku juga berharap dia menjadi seseorang yang baik suatu hari nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: