Author Archive: Hilman Fikry

Over the Rainbow

I am really coward. In my childhood, I never spoke up what actually inside my heart to my friends. I was afraid that my words could hurt them because environment made me a sensitive person. The only people I could speak up was my parents at that time. After growing up, I felt my problems also growing complex. I thought that I couldn’t share it anymore with my parents because of it. I didn’t have anyone for sharing my thought too. I needed to work it out by myself. Therefore, I’ve barely expressed my true feelings for a very long time.

My life is full of pretense. I always do everything for people’s sake. As long as they are happy, it doesn’t matter to me, even though what I’ve done is opposite to my feeling. But, it actually hurts me. I want to change. I don’t want to be everyone’s tool. But, when I changed, some people were back to offend me. I am….. scared. However, after musing, I think it is indeed our world. The world is not always filled by good things like the one in our dream. It doesn’t always work well with our expectation too. So, I need to face the whole of it. I don’t wanna run away again. I need to seek my true identity.

Kesan selama SMA

Awalnya, saya merasa minder berada di SMA ini. Saya merasa hanya ada saya sendiri karena perbedaan saya dengan teman-teman yang lainnya tentang bahasa, suku, agama, kebiasaan, dan lain-lain. Masalah ini ditambah lagi dengan kekurangmampuan saya untuk bersosial dengan yang lain.

Namun, saya tidak berpikir seperti itu lagi sekarang. Memang, awalnya saya tidak punya seorang pun yang saya kenal sebelumnya di sini. Meskipun begitu, saya punya pengalaman yang luar biasa di SMA ini. Dimulai dari teman-teman saya di 10 MIA 11 dulu, saya tidak tahu dari mana awal mulanya, tetapi saya bisa menjadi berteman dengan mereka. Kami melewati rintangan bersama-sama, mulai dari tumpukan PR, projek, dan tugas kelompok. Hal yang paling saya ingat adalah tugas kelompok kimia tentang pengamatan polusi berdasarkan metode ilmiah. Kami pergi ke pasar untuk mengobservasi sampah-sampah di sana. Itu adalah pertama kalinya aku melakukan hal tersebut.

Setelah beberapa bulan di kelas 10 MIA 11, saya pindah ke kelas 10 MIA 1. Berbeda dengan sebelumnya yang mayoritas siswanya menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, mayoritas siswa di kelas 10 MIA 1 aktif menggunakan bahasa Hokkien, yang merupakan bahasa yang saya tidak mengerti. Jadi, di awal-awal saya agak sedikit pasif. Orang yang menemani saya di sini awalnya adalah Michael Ciawi, yang sebelumnya juga dari kelas 10 MIA 11. Tetapi, lama-kelamaan saya punya banyak teman di sini.

Di kelas 11, saya lebih merasa nyaman berada di sini. Pada waktu itu, saya juga mendapatkan seorang sahabat dari kelas lain. Ini adalah pertama kalinya saya mempunyai sahabat.

Di kelas 12, saya sudah semakin merasa dekat dengan teman-teman saya di kelas. Saya sudah merasa bahwa saya tidak hanya menumpang belajar saja di sekolah ini, tetapi juga saya mendapatkan relasi yang baik dengan teman-teman saya. Selain itu, saya juga belajar cukup banyak bahasa Hokkien dari mereka, seperti percakapan sehari-hari dan juga kata-kata “khusus”, misalnya “l*n ciao” (credit : K. L.), “ciak cib*i” (credit : W. A.), “c*o o lang”, dan “l*n pa” (credit : Ciawi). Tidak hanya di kelasku, saya juga mempunyai banyak teman di kelas-kelas lain pada saat itu. Pemikiran saya yang awalnya saya hanya belajar saja di sekolah ini sudah benar-benar berubah sekarang! 😉

My Best Friend

Back then, I had a best friend. There was nothing special about him, he was just an ordinary guy. I’d changed my thinking about that after he introduced me his world, his dark and gloomy world to be exact. Then, I saw the world from his point of view. It was really terrible. I learned a lot from that, so many new things. The world with stereotypical things I knew changed drastically into a terrifying world which even I myself didn’t know if I could endure on it. That is exactly why I became his friend, it is because of to accompany him to go through his world together. I thought that I could lessen his burden by doing so. Nevertheless, that was not all about it. I could share everything on my mind with him too, something that I couldn’t do in my previous life.

Actually, I didn’t try to be an ally of justice, it was too childish. I just wanted to help him as his friend. I wanted him to live on the world of mine too, or to sense it at least. I felt that he was a part of myself. That means if he is sad, I will feel the same. I couldn’t imagine how much time I sacrificed to help him. I became more and more disorganized. But, I still couldn’t compare this to his world. That was why I still became his friend.

One day, there was a misunderstanding between us. Then, he hated me. He offended me. Of course, I was really angry. Then, I decided not to help him anymore and to end our friendship. On the other side, I still feel pity on him. I hope that he will find another friend who also care with him. I also hope that he will become a good person someday.

Terjemahan :

Sebelumnya, aku punya seorang sahabat. Tidak ada yang spesial darinya, dia cuma orang biasa. Pendapat saya itu berubah setelah dia memperkenalkan kepadaku dunianya, lebih tepatnya dunianya yang gelap dan suram. Kemudian, aku melihat dunia itu dari sudut pandangnya. Itu sangatlah buruk. Saya belajar banyak hal dari sana, begitu banyak hal. Dunia dengan hal-hal biasa yang aku tahu berubah secara drastis menjadi sebuah dunia menakutkan yang bahkan aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa bertahan di dalamnya. Itulah tepatnya mengapa aku menjadi temannya, yaitu karena untuk menemaninya melalui dunianya bersama-sama. Aku pikir bahwa aku dapat mengurangi bebannya dengan melakukannya. Namun, semuanya bukan karena itu. Aku bisa berbagi semua yang ada pikiranku dengannya juga, sesuatu yang tidak dapat aku lakukan di kehidupanku sebelumnya.

Sebenarnya, aku tidak mencoba menjadi seorang pahlawan kebenaran, itu terlalu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin menolongnya sebagai temannya. Aku menginginkannya untuk hidup di duniaku juga, setidaknya cukup merasakannya. Aku merasa bahwa dia merupakan bagian dariku. Itu berarti jika dia sedih, aku juga merasakan yang sama. Aku tidak dapat membayangkan berapa banyak waktu yang aku korbankan untuk menolongnya. Aku lama-kelamaan menjadi lebih tidak teratur. Tetapi, aku masih tidak dapat membandingkan hal ini dengan dunianya. Itulah alasannya mengapa aku masih menjadi temannya.

Suatu hari, ada suatu kesalahpahaman di antara kami. Lalu, dia membenciku. Dia menyakiti hatiku. Tentu saja, aku sangat marah. Lalu, aku memutuskan untuk tidak menolongnya lagi dan mengakhiri pertemanan kami. Di sisi lain, aku masih merasa kasihan kepadanya. Aku harap dia akan menemukan temannya yang lain yang juga peduli dengannya. Aku juga berharap dia menjadi seseorang yang baik suatu hari nanti.

Thinking by Understanding

I remember when I learned atomic structure in chemistry on the first grade of SMA. I was completely clueless about the material. What is Wien’s displacement? What is photoelectric effect? How is atomic model found? What is Brackett series? What is the reason of electron configuration and quantum number being used? What is the interconnection of each subtopics? I received random information which I had to memorize without consideration. Back then, I never realized why the information could be like that, how it could come like that, or what benefits I could get from learning it. I just memorized it since the teachers (from inside and outside my school) never explained those things in detail, they just asked me to memorize it. But surprisingly, I forget about it now (two years later). In my opinion, we can easily forget something when we haven’t processed them well in our brain, in this case, we only memorize, not understand it. So, the solution of this problem is simply understanding the information. But, how can we apply the understanding skill into our thinking? We get used to just memorizing something since primary school. We ‘love’ memorizing. We ‘love’ getting instructed and prohibited by our teachers and parents without knowing the object. We ‘love’ thinking simply and conveniently. Probably, we don’t realize them, but we do.

I am really glad by the presence of curriculum 2013. I think it is the best tool to revolutionize our thinking, so that we get used to thinking by understanding. But, it is impossible to execute well curriculum 2013 because it is confusing about what methods the teachers must carry out. We need professor-level teachers to do so. Perhaps, I talk too far. To specify, I will give example for what makes us ‘love’ thinking simply and conveniently. It is not entirely our fault. It is the education system too. The system gives standardization to us by the problem that we solve in the school exam. Consequently, it is not rare that the teacher just focus to explain the problem solutions as many as possible to make us to get used to solving the problem in the exam. Yes, we can solve the problems by this, but we understand nothing about the material concept we learned. Another example, I’ve been learning by using booklet as the primary book in my school. It is a small book made by some pieces of HVS paper. It contains one topic that has a summary of random information (which the connection of each subtopics is not given) with less explanation and less figural illustration. In my opinion, the book compels me to blindly memorize the content. It can be tolerated if we use it as a secondary book, but the teacher use it as a primary book instead of a secondary one. I think this is what makes we ‘love’ memorizing.

I have some suggestion to get used to thinking by understanding so that we can remember well the information :
1. Always put “Why?” question on every information you get
2. Never memorize the things that you don’t understand until you fully understand about it
3. Read books, browse on internet, or ask teacher about information you can’t understand

Teman-Teman yang Menginspirasiku di Tahun 2016

Ta-da! Aku kembali menulis sesuatu setelah vakum beberapa bulan. Kali ini, aku mencoba untuk melihat kembali hal-hal yang telah terjadi di masa lalu, tepatnya dalam tahun 2016 ini. Tentunya, ada begitu banyak terjadi hal-hal yang hebat di tahun ini. Aku juga menyadari bahwa diriku sendiri juga mengalami perubahan yang besar, yaitu lebih terbuka dengan teman-temanku.

Selama bersama dengan teman-temanku, aku belajar banyak hal yang tidak ditemukan di buku atau yang lainnya. Hal itu membuatku kagum dengan mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang menjadi penginspirasiku di tahun 2016 ini. Berikut adalah teman-teman yang menginspirasiku di tahun 2016.

1. William Alexander

Dia merupakan teman sekelasku dari kelas 10 sampai 12 SMA. Dia adalah orang yang penuh dengan percaya diri karena dia berani mengemukakan pendapatnya disertai dengan tanggung jawab. Itulah yang menjadi inspirasi untukku. Sebaliknya, memikirkan dampak dan tanggung jawab yang harus dihadapi membuatku enggan untuk mengemukakan pendapat. Selain itu, menurutku, dia merupakan orang yang berpendirian teguh dengan alasan yang tidak bisa aku ungkapkan di sini.

2. Nicholas

Dia, teman sekelasku, juga merupakan orang yang sangat aku kagumi. Hal yang menjadi inspirasiku adalah dia mampu untuk menerapkan apa yang dipikirkan dan dipahaminya. Sederhananya, dia berani untuk “put into action” dari apa yang sudah dipikirkannya dengan tanpa keraguan. Lebihnya lagi, dia tidak menyerah dengan mudah terhadap usaha yang dia lakukan. Selain itu, dia juga merupakan seseorang yang berpikir dengan matang terhadap setiap hal yang dilakukannya.

Akhirnya, aku minta maaf kepada teman-temanku yang namanya tertulis di atas karena tidak ada permisi dulu menyebutkan nama kalian. Aku juga minta maaf kalau deskripsi yang aku sebutkan di atas kurang tepat. Itu hanyalah dari sudut pandangku yang pastinya mungkin bisa sangat tidak sesuai dengan sudut pandang kalian.

Belajar dari Masalah

Semakin kita beranjak dewasa, semakin banyak masalah yang kita hadapi. Namun, hal yang dapat kita pelajari adalah masalah akan membuat kita semakin kuat. Dan perlu diingat bahwa masalah yang kita hadapi masih belum seberapa dibandingkan masalah yang orang lain hadapi di dunia ini. Ya, selama masalah itu tidak membuat kita mati secara tiba-tiba, tidak ada yang perlu ditakutkan. Artinya, masih ada peluang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Terlebih lagi, kita tidak sendiri, Tuhan selalu ada bersama kita. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Pendalaman Efek Doppler

Rumus Umum
catatan :
fp : frekuensi di titik pengamatan
v : cepat rampat gelombang
vp : kecepatan gerak pengamat
vm : kecepatan gerak medium perambatan
vs : kecepatan gerak sumber gelombang
f : frekuensi asal
– tanda operasi bagian atas digunakan jika benda mendekat
– tanda operasi bagian bawah digunakan jika benda menjauh

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan rumus di atas. Rumus di atas merupakan rumus umum dalam kasus “Efek Doppler”, yaitu gejala tentang perubahan frekuensi gelombang yang diamati di titik pengamatan. Perubahan frekuensi tersebut diakibatkan oleh pergerakan pengamat, sumber gelombang, atau medium perambatan. Contohnya, kita akan mendengar gemuruh yang kuat apabila pesawat bergerak mendekati kita, tetapi gemuruh menjadi tidak kuat ketika pesawat bergerak menjauhi kita. Penggunaan rumus tersebut disesuaikan dengan kasus yang dialami. Contohnya, kasusnya adalah gelombang yang dipancarkan ketika sumber gelombang diam dan pengamat bergerak mendekati sumber gelombang. Maka, kita dapat membuat rumusnya menjadi
Rumus I
Pada bagian pembilang pecahan, tanda operasi di bagian atas adalah tanda “+“, sedangkan tanda operasi di bagian bawah adalah tanda ““. Jika pengamat mendekat, maka yang kita gunakan adalah tanda operasi pada bagian atas, yaitu +vp.

Contoh lainnya, kasusnya adalah gelombang yang dipancarkan ketika pengamat bergerak menjauhi sumber gelombang, medium perambatan bergerak mendekati pengamat, dan sumber gelombang bergerak menjauhi pengamat. Maka, kita dapat membuat rumusnya menjadi
Rumus II
Pada bagian pembilang pecahan, tanda operasi di bagian atas adalah tanda “+“, sedangkan tanda operasi di bagian bawah adalah tanda ““. Jika pengamat menjauhi sumber gelombang, maka kita gunakan tanda operasi pada bagian bawah, yaitu -vp. Jika medium perambatan mendekati pengamat, maka kita gunakan tanda operasi pada bagian atas, yaitu +vm. Pada bagian penyebut pecahan, tanda operasi di bagian atas adalah tanda ““, sedangkan tanda operasi di bagian bawah adalah tanda “+“. Jika sumber gelombang menjauhi pengamat, maka kita gunakan tanda operasi pada bagian bawah, yaitu +vs.

Terlepas dari itu semua, mungkin timbul pertanyaan dari mana rumus itu berasal atau mengapa peraturan tanda operasinya seperti yang demikian. Hal tersebut didasari oleh penurunan rumus berdasarkan efek Doppler. Untuk menurunkan rumus umum tersebut, kita perlu meninjau kasusnya satu per satu.

Kasus I : Sumber Gelombang Diam dan Pengamat Diam

Pada kasus ini, cepat rambat gelombang tetap dan panjang gelombang juga tetap. Sehingga, frekuensi di titik pengamatan tidak mengalami perubahan.

Kasus II : Sumber Gelombang Diam dan Pengamat Mendekati Sumber Gelombang
Kasus II
Jika pengamat mendekati sumber gelombang, maka periode gelombang di titik pengamatan menjadi lebih cepat. Misalkan periode asal gelombang T, maka periode gelombang di titik pengamatan T’, dengan T'<T. Hal itu dikarenakan untuk menempuh satu panjang gelombang, tidak hanya ditempuh oleh perambatan gelombang (misalkan cepat rambat gelombang adalah v, maka jarak yang ditempuh oleh perambatan gelombang adalah vT’), tetapi juga ditempuh oleh pengamat yang mendekati sumber gelombang (misalkan kecepatan gerak pengamat adalah u, maka jarak yang ditempuh oleh pengamat adalah uT’). Sehingga
Rumus III
Kita mengetahui bahwa
Rumus IV
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus V
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus VI

Kasus III : Sumber Gelombang Diam dan Pengamat Menjauhi Sumber Gelombang
Kasus III
Jika pengamat menjauhi sumber gelombang, maka periode gelombang di titik pengamatan menjadi lebih lama. Misalkan periode asal gelombang T, maka periode gelombang di titik pengamatan T’, dengan T’>T. Dalam kasus ini, panjang gelombang didapat dari selisih jarak yang ditempuh oleh perambatan gelombang (vT’) dengan jarak yang ditempuh oleh pengamat (uT’). Sehingga
Rumus VII
Kita mengetahui bahwa
Rumus VIII
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus IX
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus X

Kasus IV : Sumber Gelombang Mendekati Pengamat dan Pengamat Diam
Kasus IV
Seperti pada gambar di atas, panjang gelombang di titik pengamatan menjadi lebih pendek dari panjang gelombang aslinya (ditunjukkan oleh muka gelombang yang semakin merapat di dekat titik pengamatan). Mengapa bisa demikian? Berikut penjelasannya
(i) Sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang pertama ketika sumber gelombang mendekati pengamat dengan kecepatan w.
(ii) Setelah sumber gelombang menempuh jarak wT mendekati pengamat, sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang kedua.
Artinya, jarak antara muka gelombang pertama dan kedua (panjang gelombang) menjadi lebih dekat yang diakibatkan dari sumber gelombang yang bergerak mendekati pengamat. Kita dapat menyatakannya secara matematis
Rumus XI
Kita mengetahui bahwa
Rumus XII
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XIII
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XIV

Kasus V : Sumber Gelombang Menjauhi Pengamat dan Pengamat Diam
Kasus V
Seperti pada gambar di atas, panjang gelombang di titik pengamatan menjadi lebih panjang dari panjang gelombang aslinya (ditunjukkan oleh muka gelombang yang semakin merenggang di dekat titik pengamatan). Mengapa bisa demikian? Berikut penjelasannya
(i) Sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang pertama ketika sumber gelombang menjauhi pengamat dengan kecepatan w.
(ii) Setelah sumber gelombang menempuh jarak wT menjauhi pengamat, sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang kedua.
Artinya, jarak antara muka gelombang pertama dan kedua (panjang gelombang) menjadi lebih jauh yang diakibatkan dari sumber gelombang yang bergerak menjauhi pengamat. Kita dapat menyatakannya secara matematis
Rumus XV
Kita mengetahui bahwa
Rumus XVI
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XVII
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XVIII

Kasus VI : Sumber Gelombang Diam, Pengamat Diam, dan Medium Perambatan Bergerak Mendekati Pengamat
Contoh dari medium perambatannya misalnya udara yang bergerak mendekati pengamat. Kecepatan dari medium perambatan (misalkan o) yang mendekati pengamat membuat periode gelombang menjadi lebih singkat (misalkan T’). Hal ini dikarenakan kecepatan total gelombang merupakan penjumlahan dari cepat rambat gelombang yang sebenarnya dengan kecepatan gerak medium perambatan. Jika ditulis dalam bentuk matematika
Rumus XIX
Kita mengetahui bahwa
Rumus XX
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XXI
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XXII

Kasus VII : Sumber Gelombang Diam, Pengamat Diam, dan Medium Perambatan Bergerak Menjauhi Pengamat
Kecepatan dari medium perambatan (misalkan o) yang menjauhi pengamat membuat periode gelombang menjadi lebih lama (misalkan T’). Hal ini dikarenakan kecepatan total gelombang merupakan selisih dari cepat rambat gelombang yang sebenarnya dengan kecepatan gerak medium perambatan. Jika ditulis dalam bentuk matematika
Rumus XXIII
Kita mengetahui bahwa
Rumus XXIV
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XXV
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XXVI

Penutup
Jika kita menggabungkan kasus-kasus di atas, maka kita akan mendapatkan rumus umum untuk efek Doppler seperti yang di awal penulisan.

Efek Doppler pada Gelombang Elektromagnetik
Sejauh ini, kita hanya membahas efek Doppler pada gelombang mekanik, yaitu gelombang yang memerlukan medium dalam perambatannya. Namun, bagaimana dengan efek Doppler pada gelombang elektromagnetik? Cepat rambat dari gelombang elektromagnetik di ruang hampa adalah c, sekitar 3 x 10^8 m/s. Efek Doppler pada gelombang elektromagnetik tidak dipengaruhi oleh gerak pengamat. Artinya, kita tidak memberlakukan konsep gerak relatif. Misalnya, gelombang elektromagnetik merambat dengan kecepatan c dan pengamat bergerak mendekati sumber gelombang elektromagnetik dengan kecepatan 0,9c. Maka, cepat rambat gelombang elektromagnetik dari sudut pandang pengamat tetap c, bukan 1,9c. Jadi, rumus efek Doppler untuk gelombang elektromagnetik adalah
Rumus XXVII
Jika kecepatan gerak sumber gelombang sangat kecil dibandingkan cepat rambat gelombang, maka kita dapat melakukan pendekatan sebagai berikut
Rumus XXVIII
Dengan demikian, diperoleh
Rumus XXIX
Dari persamaan ini, diperoleh pergeseran frekuensi gelombang
Rumus XXX

Kekuatan di Balik Ungkapan “Aku Pasti Bisa!”

Ya, ini memang cuma ungkapan yang terdiri dari tiga kata yang sederhana. Namun, aku percaya bahwa ungkapan ini punya kekuatan tersendiri. Kekuatan yang mampu mengangkatmu dari tempat tidur dan memaksamu untuk terus berusaha dan berlatih. Kekuatan yang dapat meningkatkan kepercayaan dirimu. Dan pada akhirnya, kekuatan ini mampu membawamu menggapai tujuanmu.

“Aku pasti bisa!”

Kelas Unggulan dan Kelas Biasa

Di Indonesia, hampir semua sekolah menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan kemampuan siswa. Biasanya, kelas secara umum terbagi menjadi dua jenis ; kelas unggulan, yang berisi siswa-siswa pilihan yang punya kemampuan belajar lebih tinggi dari siswa biasa ; dan kelas biasa, yang berisi siswa-siswa yang “dianggap” biasa.

Dulu aku berpikir, apakah pembagian kelas dalam sistem pendidikan ini sudah benar. Bukannya ini artinya seolah-olah ada ketidakikhlasan dalam pendidikan yang harusnya bertujuan mendidik siswa-siwanya secara keseluruhan. Bukannya ini dapat menciptakan suasana diskriminatif yang mungkin dapat menurunkan mental siswa-siswa yang “dianggap” biasa tersebut. Bukannya ini artinya pendidikan lebih difokuskan kepada orang-orang yang pintar saja. Kalau mereka beralasan mendidik siswa biasa berbeda dengan mendidik siswa pilihan, sehingga diperlukan pembagian kelas ; bukannya artinya mereka meremehkan siswa biasa tersebut.

Namun, semakin lama aku semakin sadar bahwa pendapatku tidak sepenuhnya benar. Ilmu bukan didapat dari kemampuan otak. Ilmu berasal dari usaha belajar yang dilakukan. Kemampuan otak hanya sedikit memengaruhi ilmu yang kita peroleh. Passion, semangat, dan tak pernah putus asa adalah faktor utama dalam proses belajar.

Kesimpulannya, menurutku pembagian kelas bukan bertujuan untuk membedakan siswa pintar dan bodoh, tetapi untuk memisahkan siswa rajin dan pemalas. Itu dikarenakan pemilihan siswa yang berasal dari nilai ujian memiliki arti bahwa siswa yang memiliki nilai tinggi disebabkan karena rajin, bukan karena pintar (kemampuan otak tinggi). Dengan sistem ini, diharapkan pola pikir dan semangat siswa yang rajin tidak dilunturkan oleh siswa yang pemalas.

Selain itu, juga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak selamanya siswa biasa akan terus tetap di kelas biasa. Itu karena biasanya akan ada perubahan kelas siswa di setiap tahun. Asalkan mempunyai semangat dalam belajar, keadaan akan berubah. Sehingga, kita dapat memandang pembagian kelas ini sebagai motivasi untuk meningkatkan semangat belajar.

Dream… Pride… Passion… Challenge…

Indonesian translation will follow. (Ada terjemahan Indonesia di akhir tulisan ini.)

These are the four words that engage me to do superb things until now. When I almost gave up to do a difficult task, these words always supported me. For me, there is magical power inside each of these words.

Dream is not something that I can go easy in determining it. It is what my life is for. Sometimes, I was told by people not to have a big dream, just realize my limitation. However, I deny that saying. It is true that I have a bunch of limitation, but it won’t be a reason to limit my dream too. What’s wrong if an ordinary student like me has a great dream. I think, dream is a media to create hard work, creativity, and innovation. It is because dream is something that I believe I can reach it. Thus, if I have a big dream, then I must work harder to equalize my efforts to my big dream. My conception is when I have a bigger dream, I have more things to boost me.

For me, pride doesn’t make me becoming a snob. Pride gives me more confidence in work. Pride is something I must have when I have a great discovery. With this, I may be able to continue my work confidentially.

Passion is a compelling love to area of interests. Life with passion is really wonderful. For me, passion can beat money. Logically, what money is for is to buy happiness. Hence, when I have already had happiness in my passionate life, money is no use at all. It is more enjoyable when I get success in creating something that I made passionately. However, it is possible that I can fail creating that thing. But, as long as I still have passion in my heart, I won’t give up. This is the power of passion.

Why do scientists still love creating intricate invention even though the probability of the invention success is near zero percent? It is because of challenge. It is because few people or even nobody could do the work. This part is the interesting point. The work becomes worth to do because it will be very useful if it is succeed.

Apparently, lately, I almost completely forget about the four-word I favored when I was still young. School projects, tasks, homework, and exams push me to do something that I am expected to do. By school scoring system, I feel an obligation to get high score even though I never put any passion into it. By school scoring system, I am afraid of challenge due to getting high score. It is like I sacrifice myself to my work without any happiness resulting to me.

Nevertheless, there is a J-Drama titled “Shitamachi Rocket” or “Downtown Rocket” which makes me remember about these words. The drama really touched my heart. Thanks to it, I can retrieve my zest now.

~~~~~

Ini adalah empat kata-kata yang mendorongku untuk melakukan hal-hal yang luar biasa sampai saat ini. Ketika aku hampir menyerah mengerjakan suatu tugas yang berat, kata-kata inilah yang selalu menyemangatiku. Bagiku, ada suatu kekuatan ajaib di setiap kata-kata ini.

Dream (impian) bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah aku tetapkan. Dream adalah tujuan aku hidup. Kadang-kadang, orang-orang bilang jangan bermimpi terlalu tinggi, sadari keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki. Meskipun demikian, aku tidak setuju. Memang, aku punya banyak keterbatasan, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membatasi dream-ku juga. Apa salahnya siswa biasa sepertiku punya dream yang tinggi. Pendapatku, dream adalah media untuk menumbuhkan kerja keras, kreativitas, dan inovasi. Itu karena dream adalah sesuatu yang aku yakin aku bisa meraihnya. Oleh karena itu, jika aku punya dream yang tinggi, maka aku harus bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan usahaku dengan dream-ku yang tinggi itu. Pemikiranku adalah ketika aku punya mimpi yang lebih tinggi, maka akan lebih banyak hal-hal yang akan mendorongku.

Bagiku, pride (kebanggaan) tidak membuatku menjadi sombong. Pride malah membuatku semakin percaya diri dalam bekerja. Pride adalah sesuatu yang harus aku miliki ketika aku mendapatkan pencapaian yang hebat. Dengan pride, aku mungkin bisa melanjutkan pekerjaanku dengan percaya diri.

Passion (gairah) adalah cinta yang dahsyat terhadap hal-hal yang ditekuni. Hidup dengan passion sangat menyenangkan. Bagiku passion dapat mengalahkan uang. Secara logika, uang digunakan untuk membeli kesenangan. Oleh karena itu, ketika aku sudah punya kesenangan dalam hidupku yang ber-passion, uang tidak akan ada gunanya sama sekali. Hidup jadi lebih menyenangkan ketika aku berhasil menciptakan sesuatu yang aku buat dengan penuh passion. Meskipun begitu, bisa jadi aku gagal dalam menciptakan sesuatu yang aku buat dengan penuh passion itu. Tapi selama aku masih punya passion di hatiku, aku tidak akan menyerah. Inilah kekuatan passion.

Mengapa ilmuwan tetap mencintai membuat penemuan yang sangat rumit, meskipun peluang berhasilnya penemuan itu hampir tidak ada? Itu karena challenge (tantangan). Itu karena cuma sedikit atau bahkan tidak ada orang yang bisa mengerjakannya. Di sini lah bagian yang menariknya. Pekerjaan itu menjadi bernilai untuk dikerjakan karena pasti akan jadi sangat berguna bila berhasil.

Sebenarnya, akhir-akhir ini aku hampir lupa mengenai empat kata yang aku sukai ketika aku masih kecil ini. Proyek sekolah, tugas, PR, dan ujian memaksaku untuk melakukan sesuatu yang mereka harapkan. Dengan sistem penilaian sekolah, aku merasa meraih nilai setinggi-tingginya adalah suatu kewajiban meskipun aku tidak menaruh hatiku sama sekali terhadap kewajiban tersebut. Dengan sistem penilaian sekolah, aku jadi takut tantangan dikarenakan untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Itu seperti aku mengorbankan diriku untuk bekerja tanpa ada kesenangan yang aku dapat.

Meskipun demikian, ada J-Drama yang berjudul “Shitamachi Rocket” yang mengingatkanku kembali terhadap empat kata itu. Dramanya sangat menyentuh hatiku. Terima kasih kepadanya, sekarang aku dapat mengembalikan semangatku.

%d bloggers like this: