Pertarungan dengan Diri Sendiri – Menjadi Dewasa

Sekarang, usiaku sudah 18 tahun. Waktu berlalu dengan sangat cepat, ya! Aku ingat pertama kali blog ini dibuat pada tahun 2012, yaitu ketika usiaku 13 tahun (sekitar kelas 2 SMP). Dulu, aku sangat antusias dalam membuat blog ini. Bisa dibilang, blog ini adalah project terbesarku saat itu. Dulu, aku bermimpi bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang berpengaruh di dunia ini. Oleh karena itu, aku perlu menuliskan perjalanan hidup dan pemikiranku sejak saat itu. Pemikiranku sangat kekanak-kanakan ya!

Bukan hanya dulu saja, sampai saat ini aku juga masih merasa aku masih berpikiran seperti anak-anak. Temen kuliahku, tepatnya yang duduk di sampingku pada saat di kelas, sering bertanya berapa usiaku. Menurutnya, perilakuku sangat tidak mencerminkan usiaku.

Aku juga sebenarnya sangat paham bahwa aku berpikir seperti bocah usia 5 sampai 7 tahun. Itu memang hal yang aku inginkan. Aku tidak ingin menjadi orang dewasa. Aku selalu ingin menjadi anak-anak. Dengan berpikir seperti anak-anak, aku dapat selalu antusias dengan setiap pekerjaanku, selalu merasa bersemangat setiap hari, penuh percaya diri, tidak ambil pusing dengan komentar destruktif dari orang lain, tidak malu bertanya, punya rasa keingintahuan yang besar, lebih mudah berimajinasi, tidak mudah menyerah dan putus asa, dan selalu ceria. Masih banyak lagi dampak positif yang aku rasakan dengan berpikir seperti anak-anak. Oleh sebab itu, aku pikir aku tidak perlu menjadi orang dewasa – tetap berperilaku kekanak-kanakan sampai aku sudah tua nanti. Dengan demikian, aku dapat selalu hidup bahagia selamanya. Bagiku, menjadi orang dewasa itu tidak menyenangkan. Mereka terkesan tidak ramah, sulit tersenyum, takut mengambil keputusan, mudah menyerah, terlalu banyak memikirkan segala hal, pemalu, dan lain-lain.

Tapi, aku melupakan satu hal yang cukup penting. Ketika usia kita semakin dewasa, semakin banyak tanggung jawab yang harus kita pegang. Sebaliknya, dengan bersifat seperti anak-anak, aku sama sekali merasa tidak memiliki tanggung jawab. Aku hanya hidup untuk diriku sendiri. Aku egois.

Contohnya, aku sangat jarang belajar ketika mendekati ujian. Aku sama sekali tidak pernah mengerjakan soal-soal secara mandiri, kecuali dalam keadaan terpaksa seperti lagi ngajarin temen atau ngerjain PR dari dosen. Bagiku, soal-soal ujian tahun lalu adalah spoiler yang harus dihindari jika ingin menikmati ujian secara maksimal. Aku benar-benar tidak serius mengenai nilai akademik dan ujian, sangat bertolak belakang dengan temen-temenku yang sangat semangat belajar dan mengerjakan soal-soal. Tidak jarang aku mendengar obrolan nilai akademik dari mereka, sesuatu yang aku anggap hanya bernilai untuk orang tuaku, bukan untukku. Oleh karena itu, aku masih harus tetap mengerjakan ujian dengan serius demi menyenangkan orang tuaku.

Untungnya, hal tersebut dapat diatasi karena dengan berpikiran seperti anak-anak, aku memiliki rasa keingintahuan yang besar sehingga aku selalu membaca buku teks dengan semangat. Akibatnya, nilai akademikku, bisa dibilang, cukup baik. Namun, mau sampai kapan aku bisa terus begini? Aku berpikir pasti ada suatu saat nanti ketika obsesi keingintahuanku saja tidak cukup membantuku menghadapi ujian.

Hal lain yang aku rasa merupakan dampak negatif dari sifat kekanak-kanakanku adalah aku tidak dapat mengontrol pengeluaran uangku dengan baik. Seharusnya, dengan menerima uang dari orang tua, aku harus bisa bertanggung jawab untuk memanfaatkan uang tersebut dengan sebaik-baiknya. Tapi, aku hampir tidak merasakan tanggung jawab ini. Aku hanya memikirkan diriku sendiri dalam penggunaan uang tersebut. Aku bingung apa yang akan terjadi kepadaku jika hal ini masih berlanjut ketika usiaku sudah dewasa nanti.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, aku merasa aku perlu berpikir menjadi dewasa. Tidak, aku harus menjadi dewasa. Namun, setidaknya aku ingin mempertahankan dampak positif dari sifat anak-anak ketika aku sudah berpikir dewasa. Bagiku, ini adalah pertarungan yang cukup kuat antara sifat kekanak-kanakan dan sifat kedewasaan.

Advertisements

Impactful Phrases

When I nearly give up to do something, there are phrases that I completely remember in my favorite video game. It is spoken by Evan, a young king in a kingdom called Evermore. Here it is…

I won’t run away…

Not again… Not ever!!

Yeah, when those words get into my mind, they give me a great power to persist until I’ve finished doing something hard. They are magic words for me. What are yours? ^^

Make Everyone Happy? – The Second Wave

I am eager to make everyone happy. However, I don’t know why I would be like that. Making someone happy doesn’t affect me much, does it? So, why? Why do I feel like I am happy when everyone is happy? It is a fake feeling, right? In fact, I need to suffer to make someone happy. It must be a natural law that the one I could make happy is actually myself. I’ve acknowledged this since the very beginning, but I still do something for people’s sake. Even though, I’ve also known that it is difficult to meet everyone demands at the same time – really difficult to be honest.

Now, the second wave is coming. In this new chapter, I begin to do something for my very own sake. I need to strengthen my identity. I need to put less care about people beside me. I am going to live my own life – being the one I particularly want. So, get ready!