Over the Rainbow

I am really coward. In my childhood, I never spoke up what actually inside my heart to my friends. I was afraid that my words could hurt them because environment made me a sensitive person. The only people I could speak up was my parents at that time. After growing up, I felt my problems also growing complex. I thought that I couldn’t share it anymore with my parents because of it. I didn’t have anyone for sharing my thought too. I needed to work it out by myself. Therefore, I’ve barely expressed my true feelings for a very long time.

My life is full of pretense. I always do everything for people’s sake. As long as they are happy, it doesn’t matter to me, even though what I’ve done is opposite to my feeling. But, it actually hurts me. I want to change. I don’t want to be everyone’s tool. But, when I changed, some people were back to offend me. I am….. scared. However, after musing, I think it is indeed our world. The world is not always filled by good things like the one in our dream. It doesn’t always work well with our expectation too. So, I need to face the whole of it. I don’t wanna run away again. I need to seek my true identity.

Advertisements

Kesan selama SMA

Awalnya, saya merasa minder berada di SMA ini. Saya merasa hanya ada saya sendiri karena perbedaan saya dengan teman-teman yang lainnya tentang bahasa, suku, agama, kebiasaan, dan lain-lain. Masalah ini ditambah lagi dengan kekurangmampuan saya untuk bersosial dengan yang lain.

Namun, saya tidak berpikir seperti itu lagi sekarang. Memang, awalnya saya tidak punya seorang pun yang saya kenal sebelumnya di sini. Meskipun begitu, saya punya pengalaman yang luar biasa di SMA ini. Dimulai dari teman-teman saya di 10 MIA 11 dulu, saya tidak tahu dari mana awal mulanya, tetapi saya bisa menjadi berteman dengan mereka. Kami melewati rintangan bersama-sama, mulai dari tumpukan PR, projek, dan tugas kelompok. Hal yang paling saya ingat adalah tugas kelompok kimia tentang pengamatan polusi berdasarkan metode ilmiah. Kami pergi ke pasar untuk mengobservasi sampah-sampah di sana. Itu adalah pertama kalinya aku melakukan hal tersebut.

Setelah beberapa bulan di kelas 10 MIA 11, saya pindah ke kelas 10 MIA 1. Berbeda dengan sebelumnya yang mayoritas siswanya menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, mayoritas siswa di kelas 10 MIA 1 aktif menggunakan bahasa Hokkien, yang merupakan bahasa yang saya tidak mengerti. Jadi, di awal-awal saya agak sedikit pasif. Orang yang menemani saya di sini awalnya adalah Michael Ciawi, yang sebelumnya juga dari kelas 10 MIA 11. Tetapi, lama-kelamaan saya punya banyak teman di sini.

Di kelas 11, saya lebih merasa nyaman berada di sini. Pada waktu itu, saya juga mendapatkan seorang sahabat dari kelas lain. Ini adalah pertama kalinya saya mempunyai sahabat.

Di kelas 12, saya sudah semakin merasa dekat dengan teman-teman saya di kelas. Saya sudah merasa bahwa saya tidak hanya menumpang belajar saja di sekolah ini, tetapi juga saya mendapatkan relasi yang baik dengan teman-teman saya. Selain itu, saya juga belajar cukup banyak bahasa Hokkien dari mereka, seperti percakapan sehari-hari dan juga kata-kata “khusus”, misalnya “l*n ciao” (credit : K. L.), “ciak cib*i” (credit : W. A.), “c*o o lang”, dan “l*n pa” (credit : Ciawi). Tidak hanya di kelasku, saya juga mempunyai banyak teman di kelas-kelas lain pada saat itu. Pemikiran saya yang awalnya saya hanya belajar saja di sekolah ini sudah benar-benar berubah sekarang! 😉

Teman-Teman yang Menginspirasiku di Tahun 2016

Ta-da! Aku kembali menulis sesuatu setelah vakum beberapa bulan. Kali ini, aku mencoba untuk melihat kembali hal-hal yang telah terjadi di masa lalu, tepatnya dalam tahun 2016 ini. Tentunya, ada begitu banyak terjadi hal-hal yang hebat di tahun ini. Aku juga menyadari bahwa diriku sendiri juga mengalami perubahan yang besar, yaitu lebih terbuka dengan teman-temanku.

Selama bersama dengan teman-temanku, aku belajar banyak hal yang tidak ditemukan di buku atau yang lainnya. Hal itu membuatku kagum dengan mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang menjadi penginspirasiku di tahun 2016 ini. Berikut adalah teman-teman yang menginspirasiku di tahun 2016.

1. William Alexander

Dia merupakan teman sekelasku dari kelas 10 sampai 12 SMA. Dia adalah orang yang penuh dengan percaya diri karena dia berani mengemukakan pendapatnya disertai dengan tanggung jawab. Itulah yang menjadi inspirasi untukku. Sebaliknya, memikirkan dampak dan tanggung jawab yang harus dihadapi membuatku enggan untuk mengemukakan pendapat. Selain itu, menurutku, dia merupakan orang yang berpendirian teguh dengan alasan yang tidak bisa aku ungkapkan di sini.

2. Nicholas

Dia, teman sekelasku, juga merupakan orang yang sangat aku kagumi. Hal yang menjadi inspirasiku adalah dia mampu untuk menerapkan apa yang dipikirkan dan dipahaminya. Sederhananya, dia berani untuk “put into action” dari apa yang sudah dipikirkannya dengan tanpa keraguan. Lebihnya lagi, dia tidak menyerah dengan mudah terhadap usaha yang dia lakukan. Selain itu, dia juga merupakan seseorang yang berpikir dengan matang terhadap setiap hal yang dilakukannya.

Akhirnya, aku minta maaf kepada teman-temanku yang namanya tertulis di atas karena tidak ada permisi dulu menyebutkan nama kalian. Aku juga minta maaf kalau deskripsi yang aku sebutkan di atas kurang tepat. Itu hanyalah dari sudut pandangku yang pastinya mungkin bisa sangat tidak sesuai dengan sudut pandang kalian.