Category Archives: Pelajaran Sekolah

Thinking by Understanding

I remember when I learned atomic structure in chemistry on the first grade of SMA. I was completely clueless about the material. What is Wien’s displacement? What is photoelectric effect? How is atomic model found? What is Brackett series? What is the reason of electron configuration and quantum number being used? What is the interconnection of each subtopics? I received random information which I had to memorize without consideration. Back then, I never realized why the information could be like that, how it could come like that, or what benefits I could get from learning it. I just memorized it since the teachers (from inside and outside my school) never explained those things in detail, they just asked me to memorize it. But surprisingly, I forget about it now (two years later). In my opinion, we can easily forget something when we haven’t processed them well in our brain, in this case, we only memorize, not understand it. So, the solution of this problem is simply understanding the information. But, how can we apply the understanding skill into our thinking? We get used to just memorizing something since primary school. We ‘love’ memorizing. We ‘love’ getting instructed and prohibited by our teachers and parents without knowing the object. We ‘love’ thinking simply and conveniently. Probably, we don’t realize them, but we do.

I am really glad by the presence of curriculum 2013. I think it is the best tool to revolutionize our thinking, so that we get used to thinking by understanding. But, it is impossible to execute well curriculum 2013 because it is confusing about what methods the teachers must carry out. We need professor-level teachers to do so. Perhaps, I talk too far. To specify, I will give example for what makes us ‘love’ thinking simply and conveniently. It is not entirely our fault. It is the education system too. The system gives standardization to us by the problem that we solve in the school exam. Consequently, it is not rare that the teacher just focus to explain the problem solutions as many as possible to make us to get used to solving the problem in the exam. Yes, we can solve the problems by this, but we understand nothing about the material concept we learned. Another example, I’ve been learning by using booklet as the primary book in my school. It is a small book made by some pieces of HVS paper. It contains one topic that has a summary of random information (which the connection of each subtopics is not given) with less explanation and less figural illustration. In my opinion, the book compels me to blindly memorize the content. It can be tolerated if we use it as a secondary book, but the teacher use it as a primary book instead of a secondary one. I think this is what makes we ‘love’ memorizing.

I have some suggestion to get used to thinking by understanding so that we can remember well the information :
1. Always put “Why?” question on every information you get
2. Never memorize the things that you don’t understand until you fully understand about it
3. Read books, browse on internet, or ask teacher about information you can’t understand

Pendalaman Efek Doppler

Rumus Umum
catatan :
fp : frekuensi di titik pengamatan
v : cepat rampat gelombang
vp : kecepatan gerak pengamat
vm : kecepatan gerak medium perambatan
vs : kecepatan gerak sumber gelombang
f : frekuensi asal
– tanda operasi bagian atas digunakan jika benda mendekat
– tanda operasi bagian bawah digunakan jika benda menjauh

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan rumus di atas. Rumus di atas merupakan rumus umum dalam kasus “Efek Doppler”, yaitu gejala tentang perubahan frekuensi gelombang yang diamati di titik pengamatan. Perubahan frekuensi tersebut diakibatkan oleh pergerakan pengamat, sumber gelombang, atau medium perambatan. Contohnya, kita akan mendengar gemuruh yang kuat apabila pesawat bergerak mendekati kita, tetapi gemuruh menjadi tidak kuat ketika pesawat bergerak menjauhi kita. Penggunaan rumus tersebut disesuaikan dengan kasus yang dialami. Contohnya, kasusnya adalah gelombang yang dipancarkan ketika sumber gelombang diam dan pengamat bergerak mendekati sumber gelombang. Maka, kita dapat membuat rumusnya menjadi
Rumus I
Pada bagian pembilang pecahan, tanda operasi di bagian atas adalah tanda “+“, sedangkan tanda operasi di bagian bawah adalah tanda ““. Jika pengamat mendekat, maka yang kita gunakan adalah tanda operasi pada bagian atas, yaitu +vp.

Contoh lainnya, kasusnya adalah gelombang yang dipancarkan ketika pengamat bergerak menjauhi sumber gelombang, medium perambatan bergerak mendekati pengamat, dan sumber gelombang bergerak menjauhi pengamat. Maka, kita dapat membuat rumusnya menjadi
Rumus II
Pada bagian pembilang pecahan, tanda operasi di bagian atas adalah tanda “+“, sedangkan tanda operasi di bagian bawah adalah tanda ““. Jika pengamat menjauhi sumber gelombang, maka kita gunakan tanda operasi pada bagian bawah, yaitu -vp. Jika medium perambatan mendekati pengamat, maka kita gunakan tanda operasi pada bagian atas, yaitu +vm. Pada bagian penyebut pecahan, tanda operasi di bagian atas adalah tanda ““, sedangkan tanda operasi di bagian bawah adalah tanda “+“. Jika sumber gelombang menjauhi pengamat, maka kita gunakan tanda operasi pada bagian bawah, yaitu +vs.

Terlepas dari itu semua, mungkin timbul pertanyaan dari mana rumus itu berasal atau mengapa peraturan tanda operasinya seperti yang demikian. Hal tersebut didasari oleh penurunan rumus berdasarkan efek Doppler. Untuk menurunkan rumus umum tersebut, kita perlu meninjau kasusnya satu per satu.

Kasus I : Sumber Gelombang Diam dan Pengamat Diam

Pada kasus ini, cepat rambat gelombang tetap dan panjang gelombang juga tetap. Sehingga, frekuensi di titik pengamatan tidak mengalami perubahan.

Kasus II : Sumber Gelombang Diam dan Pengamat Mendekati Sumber Gelombang
Kasus II
Jika pengamat mendekati sumber gelombang, maka periode gelombang di titik pengamatan menjadi lebih cepat. Misalkan periode asal gelombang T, maka periode gelombang di titik pengamatan T’, dengan T'<T. Hal itu dikarenakan untuk menempuh satu panjang gelombang, tidak hanya ditempuh oleh perambatan gelombang (misalkan cepat rambat gelombang adalah v, maka jarak yang ditempuh oleh perambatan gelombang adalah vT’), tetapi juga ditempuh oleh pengamat yang mendekati sumber gelombang (misalkan kecepatan gerak pengamat adalah u, maka jarak yang ditempuh oleh pengamat adalah uT’). Sehingga
Rumus III
Kita mengetahui bahwa
Rumus IV
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus V
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus VI

Kasus III : Sumber Gelombang Diam dan Pengamat Menjauhi Sumber Gelombang
Kasus III
Jika pengamat menjauhi sumber gelombang, maka periode gelombang di titik pengamatan menjadi lebih lama. Misalkan periode asal gelombang T, maka periode gelombang di titik pengamatan T’, dengan T’>T. Dalam kasus ini, panjang gelombang didapat dari selisih jarak yang ditempuh oleh perambatan gelombang (vT’) dengan jarak yang ditempuh oleh pengamat (uT’). Sehingga
Rumus VII
Kita mengetahui bahwa
Rumus VIII
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus IX
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus X

Kasus IV : Sumber Gelombang Mendekati Pengamat dan Pengamat Diam
Kasus IV
Seperti pada gambar di atas, panjang gelombang di titik pengamatan menjadi lebih pendek dari panjang gelombang aslinya (ditunjukkan oleh muka gelombang yang semakin merapat di dekat titik pengamatan). Mengapa bisa demikian? Berikut penjelasannya
(i) Sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang pertama ketika sumber gelombang mendekati pengamat dengan kecepatan w.
(ii) Setelah sumber gelombang menempuh jarak wT mendekati pengamat, sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang kedua.
Artinya, jarak antara muka gelombang pertama dan kedua (panjang gelombang) menjadi lebih dekat yang diakibatkan dari sumber gelombang yang bergerak mendekati pengamat. Kita dapat menyatakannya secara matematis
Rumus XI
Kita mengetahui bahwa
Rumus XII
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XIII
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XIV

Kasus V : Sumber Gelombang Menjauhi Pengamat dan Pengamat Diam
Kasus V
Seperti pada gambar di atas, panjang gelombang di titik pengamatan menjadi lebih panjang dari panjang gelombang aslinya (ditunjukkan oleh muka gelombang yang semakin merenggang di dekat titik pengamatan). Mengapa bisa demikian? Berikut penjelasannya
(i) Sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang pertama ketika sumber gelombang menjauhi pengamat dengan kecepatan w.
(ii) Setelah sumber gelombang menempuh jarak wT menjauhi pengamat, sumber gelombang mengeluarkan muka gelombang kedua.
Artinya, jarak antara muka gelombang pertama dan kedua (panjang gelombang) menjadi lebih jauh yang diakibatkan dari sumber gelombang yang bergerak menjauhi pengamat. Kita dapat menyatakannya secara matematis
Rumus XV
Kita mengetahui bahwa
Rumus XVI
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XVII
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan

Kasus VI : Sumber Gelombang Diam, Pengamat Diam, dan Medium Perambatan Bergerak Mendekati Pengamat
Contoh dari medium perambatannya misalnya udara yang bergerak mendekati pengamat. Kecepatan dari medium perambatan (misalkan o) yang mendekati pengamat membuat periode gelombang menjadi lebih singkat (misalkan T’). Hal ini dikarenakan kecepatan total gelombang merupakan penjumlahan dari cepat rambat gelombang yang sebenarnya dengan kecepatan gerak medium perambatan. Jika ditulis dalam bentuk matematika
Rumus XIX
Kita mengetahui bahwa
Rumus XX
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XXI
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XXII

Kasus VII : Sumber Gelombang Diam, Pengamat Diam, dan Medium Perambatan Bergerak Menjauhi Pengamat
Kecepatan dari medium perambatan (misalkan o) yang menjauhi pengamat membuat periode gelombang menjadi lebih lama (misalkan T’). Hal ini dikarenakan kecepatan total gelombang merupakan selisih dari cepat rambat gelombang yang sebenarnya dengan kecepatan gerak medium perambatan. Jika ditulis dalam bentuk matematika
Kita mengetahui bahwa
Rumus XXIV
Sehingga persamaan sebelumnya dapat kita ubah menjadi
Rumus XXV
Jika kita sesuaikan simbol hurufnya dengan rumus umumnya, kita akan mendapatkan
Rumus XXVI

Jika kita menggabungkan kasus-kasus di atas, maka kita akan mendapatkan rumus umum untuk efek Doppler seperti yang di awal penulisan.

Efek Doppler pada Gelombang Elektromagnetik
Sejauh ini, kita hanya membahas efek Doppler pada gelombang mekanik, yaitu gelombang yang memerlukan medium dalam perambatannya. Namun, bagaimana dengan efek Doppler pada gelombang elektromagnetik? Cepat rambat dari gelombang elektromagnetik di ruang hampa adalah c, sekitar 3 x 10^8 m/s. Efek Doppler pada gelombang elektromagnetik tidak dipengaruhi oleh gerak pengamat. Artinya, kita tidak memberlakukan konsep gerak relatif. Misalnya, gelombang elektromagnetik merambat dengan kecepatan c dan pengamat bergerak mendekati sumber gelombang elektromagnetik dengan kecepatan 0,9c. Maka, cepat rambat gelombang elektromagnetik dari sudut pandang pengamat tetap c, bukan 1,9c. Jadi, rumus efek Doppler untuk gelombang elektromagnetik adalah
Jika kecepatan gerak sumber gelombang sangat kecil dibandingkan cepat rambat gelombang, maka kita dapat melakukan pendekatan sebagai berikut
Dengan demikian, diperoleh
Rumus XXIX
Dari persamaan ini, diperoleh pergeseran frekuensi gelombang
Rumus XXX

Kelas Unggulan dan Kelas Biasa

Di Indonesia, hampir semua sekolah menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan kemampuan siswa. Biasanya, kelas secara umum terbagi menjadi dua jenis ; kelas unggulan, yang berisi siswa-siswa pilihan yang punya kemampuan belajar lebih tinggi dari siswa biasa ; dan kelas biasa, yang berisi siswa-siswa yang “dianggap” biasa.

Dulu aku berpikir, apakah pembagian kelas dalam sistem pendidikan ini sudah benar. Bukannya ini artinya seolah-olah ada ketidakikhlasan dalam pendidikan yang harusnya bertujuan mendidik siswa-siwanya secara keseluruhan. Bukannya ini dapat menciptakan suasana diskriminatif yang mungkin dapat menurunkan mental siswa-siswa yang “dianggap” biasa tersebut. Bukannya ini artinya pendidikan lebih difokuskan kepada orang-orang yang pintar saja. Kalau mereka beralasan mendidik siswa biasa berbeda dengan mendidik siswa pilihan, sehingga diperlukan pembagian kelas ; bukannya artinya mereka meremehkan siswa biasa tersebut.

Namun, semakin lama aku semakin sadar bahwa pendapatku tidak sepenuhnya benar. Ilmu bukan didapat dari kemampuan otak. Ilmu berasal dari usaha belajar yang dilakukan. Kemampuan otak hanya sedikit memengaruhi ilmu yang kita peroleh. Passion, semangat, dan tak pernah putus asa adalah faktor utama dalam proses belajar.

Kesimpulannya, menurutku pembagian kelas bukan bertujuan untuk membedakan siswa pintar dan bodoh, tetapi untuk memisahkan siswa rajin dan pemalas. Itu dikarenakan pemilihan siswa yang berasal dari nilai ujian memiliki arti bahwa siswa yang memiliki nilai tinggi disebabkan karena rajin, bukan karena pintar (kemampuan otak tinggi). Dengan sistem ini, diharapkan pola pikir dan semangat siswa yang rajin tidak dilunturkan oleh siswa yang pemalas.

Selain itu, juga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak selamanya siswa biasa akan terus tetap di kelas biasa. Itu karena biasanya akan ada perubahan kelas siswa di setiap tahun. Asalkan mempunyai semangat dalam belajar, keadaan akan berubah. Sehingga, kita dapat memandang pembagian kelas ini sebagai motivasi untuk meningkatkan semangat belajar.

Dream… Pride… Passion… Challenge…

Indonesian translation will follow. (Ada terjemahan Indonesia di akhir tulisan ini.)

These are the four words that engage me to do superb things until now. When I almost gave up to do a difficult task, these words always supported me. For me, there is magical power inside each of these words.

Dream is not something that I can go easy in determining it. It is what my life is for. Sometimes, I was told by people not to have a big dream, just realize my limitation. However, I deny that saying. It is true that I have a bunch of limitation, but it won’t be a reason to limit my dream too. What’s wrong if an ordinary student like me has a great dream. I think, dream is a media to create hard work, creativity, and innovation. It is because dream is something that I believe I can reach it. Thus, if I have a big dream, then I must work harder to equalize my efforts to my big dream. My conception is when I have a bigger dream, I have more things to boost me.

For me, pride doesn’t make me becoming a snob. Pride gives me more confidence in work. Pride is something I must have when I have a great discovery. With this, I may be able to continue my work confidentially.

Passion is a compelling love to area of interests. Life with passion is really wonderful. For me, passion can beat money. Logically, what money is for is to buy happiness. Hence, when I have already had happiness in my passionate life, money is no use at all. It is more enjoyable when I get success in creating something that I made passionately. However, it is possible that I can fail creating that thing. But, as long as I still have passion in my heart, I won’t give up. This is the power of passion.

Why do scientists still love creating intricate invention even though the probability of the invention success is near zero percent? It is because of challenge. It is because few people or even nobody could do the work. This part is the interesting point. The work becomes worth to do because it will be very useful if it is succeed.

Apparently, lately, I almost completely forget about the four-word I favored when I was still young. School projects, tasks, homework, and exams push me to do something that I am expected to do. By school scoring system, I feel an obligation to get high score even though I never put any passion into it. By school scoring system, I am afraid of challenge due to getting high score. It is like I sacrifice myself to my work without any happiness resulting to me.

Nevertheless, there is a J-Drama titled “Shitamachi Rocket” or “Downtown Rocket” which makes me remember about these words. The drama really touched my heart. Thanks to it, I can retrieve my zest now.


Ini adalah empat kata-kata yang mendorongku untuk melakukan hal-hal yang luar biasa sampai saat ini. Ketika aku hampir menyerah mengerjakan suatu tugas yang berat, kata-kata inilah yang selalu menyemangatiku. Bagiku, ada suatu kekuatan ajaib di setiap kata-kata ini.

Dream (impian) bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah aku tetapkan. Dream adalah tujuan aku hidup. Kadang-kadang, orang-orang bilang jangan bermimpi terlalu tinggi, sadari keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki. Meskipun demikian, aku tidak setuju. Memang, aku punya banyak keterbatasan, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membatasi dream-ku juga. Apa salahnya siswa biasa sepertiku punya dream yang tinggi. Pendapatku, dream adalah media untuk menumbuhkan kerja keras, kreativitas, dan inovasi. Itu karena dream adalah sesuatu yang aku yakin aku bisa meraihnya. Oleh karena itu, jika aku punya dream yang tinggi, maka aku harus bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan usahaku dengan dream-ku yang tinggi itu. Pemikiranku adalah ketika aku punya mimpi yang lebih tinggi, maka akan lebih banyak hal-hal yang akan mendorongku.

Bagiku, pride (kebanggaan) tidak membuatku menjadi sombong. Pride malah membuatku semakin percaya diri dalam bekerja. Pride adalah sesuatu yang harus aku miliki ketika aku mendapatkan pencapaian yang hebat. Dengan pride, aku mungkin bisa melanjutkan pekerjaanku dengan percaya diri.

Passion (gairah) adalah cinta yang dahsyat terhadap hal-hal yang ditekuni. Hidup dengan passion sangat menyenangkan. Bagiku passion dapat mengalahkan uang. Secara logika, uang digunakan untuk membeli kesenangan. Oleh karena itu, ketika aku sudah punya kesenangan dalam hidupku yang ber-passion, uang tidak akan ada gunanya sama sekali. Hidup jadi lebih menyenangkan ketika aku berhasil menciptakan sesuatu yang aku buat dengan penuh passion. Meskipun begitu, bisa jadi aku gagal dalam menciptakan sesuatu yang aku buat dengan penuh passion itu. Tapi selama aku masih punya passion di hatiku, aku tidak akan menyerah. Inilah kekuatan passion.

Mengapa ilmuwan tetap mencintai membuat penemuan yang sangat rumit, meskipun peluang berhasilnya penemuan itu hampir tidak ada? Itu karena challenge (tantangan). Itu karena cuma sedikit atau bahkan tidak ada orang yang bisa mengerjakannya. Di sini lah bagian yang menariknya. Pekerjaan itu menjadi bernilai untuk dikerjakan karena pasti akan jadi sangat berguna bila berhasil.

Sebenarnya, akhir-akhir ini aku hampir lupa mengenai empat kata yang aku sukai ketika aku masih kecil ini. Proyek sekolah, tugas, PR, dan ujian memaksaku untuk melakukan sesuatu yang mereka harapkan. Dengan sistem penilaian sekolah, aku merasa meraih nilai setinggi-tingginya adalah suatu kewajiban meskipun aku tidak menaruh hatiku sama sekali terhadap kewajiban tersebut. Dengan sistem penilaian sekolah, aku jadi takut tantangan dikarenakan untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Itu seperti aku mengorbankan diriku untuk bekerja tanpa ada kesenangan yang aku dapat.

Meskipun demikian, ada J-Drama yang berjudul “Shitamachi Rocket” yang mengingatkanku kembali terhadap empat kata itu. Dramanya sangat menyentuh hatiku. Terima kasih kepadanya, sekarang aku dapat mengembalikan semangatku.

Pembuktian Hukum III Kepler

Sebelum Newton merumuskan Hukum Gravitasi Universal, sebenarnya Kepler sudah merumuskan Hukum mengenai beberapa gejala alam di luar angkasa, yaitu berhubungan dengan gerak planet. Ada 3 Hukum Kepler, yaitu :

Hukum I Kepler
Setiap planet mengelilingi matahari dalam lintasan berbentuk elips dan matahari terletak pada salah satu titik fokus elips (elips memiliki dua titik fokus).

Hukum II Kepler
Pada selang waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari menyapu daerah yang luasnya sama.

Hukum III Kepler
Perbandingan kuadrat periode revolusi planet mengelilingi matahari dengan pangkat tiga jarak rata-rata planet ke matahari adalah sama untuk semua planet.

Hebatnya, Hukum Gravitasi Universal Newton dapat membuktikan semua Hukum Kepler tersebut. Pada kesempatan ini, saya hanya akan menjelaskan bagaimana Hukum Gravitasi Universal Newton dapat membuktikan Hukum III Kepler. Ini karena pembuktian Hukum I dan II Kepler memerlukan ilmu matematika yang cukup tinggi, yaitu kalkulus.

Untuk membuktikan Hukum III Kepler, kita akan menganggap lintasan planet berbentuk lingkaran, bukan elips. Hal ini tidak terlalu memengaruhi hasil yang didapat nanti karena lintasan elips planet mendekati bentuk lingkaran. Pada benda yang bergerak melingkar, ada gaya yang membuat benda tetap bergerak pada lintasannya yang berbentuk lingkaran, yang disebut gaya sentripetal. Gaya sentripetal tersebut selalu berarah ke pusat lingkaran, dalam hal ini ke arah matahari.

Gaya sentripetal tersebut sebenarnya adalah gaya gravitasi oleh matahari pada planet yang mengelilinginya.
Gaya gravitasi yang diakibatkan matahari kepada planet memenuhi Hukum Gravitasi Universal Newton.
Nilai di ruas kanan persamaan hanya begantung kepada massa matahari. Karena massa matahari selalu tetap, maka nilai di ruas kanan persamaan besarnya konstan atau tetap. Dengan memasukkan nilai massa matahari M dan konstanta gravitasi universal G, pebandingan T2/R3 adalah 2,97×10-19 s2m-3.

Dari persamaan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan nilai perbandingan T2/R3 adalah sama untuk semua planet yang mengitari matahari. Sebagai tambahan, kita dapat mengubah bentuk persamaan (1).
Dengan menganggap hal ini sebagai gerak melingkar dari suatu titik di permukaan bumi terhadap pusat bumi, maka M adalah massa bumi, R adalah jarak antara pusat bumi dan permukaan bumi, g adalah kuat medan gravitasi di permukaan bumi, dan T adalah periode suatu titik tersebut mengelilingi bumi atau “periode rotasi bumi”.
Dengan persamaan (2), kita dapat mencari massa bumi dalam artikel Menentukan Massa Bumi

Menentukan Massa Bumi

Saya lebih suka menggunakan kata “menentukan” daripada kata “mengukur” karena kita tidak akan mengukur massa bumi secara langsung. Kita tidak mungkin mencari massa bumi dengan mencari massa jenis bumi karena massa jenis bumi berbeda-beda di setiap daerah. Artinya, kita tidak mungkin menimbang massa beberapa bagian tanah dan mengukur volumenya untuk mendapatkan massa jenis bumi. Hal itu dikarenakan tanah di bumi memiliki massa jenis yang bervariasi. Ditambah lagi, tanah merupakan bagian dari kerak bumi, sedangkan bumi memiliki bagian lainnya, seperti mantel bumi yang mengandung zat cair. Oleh karena itu, massa jenis tanah tentu berbeda dengan massa jenis zat cair di mantel bumi. Jadi, kita akan mengukur massa bumi secara tidak langsung dalam menentukan massa bumi dengan menggunakan beberapa persamaan sederhana.

Kita menggunakan Hukum Gravitasi Universal Newton dalam menentukan massa bumi.
Bagi persamaan dengan m.
Kita definisikan F/m sebagai kuat medan gravitasi g atau percepatan gravitasi g.

Berdasarkan persamaan tersebut, massa bumi M dipengaruhi oleh kuat medan gravitasi bumi g dan jari-jari bumi R. Jadi, kita perlu menentukan besaran-besaran yang diperlukan tersebut untuk menentukan massa bumi.

1. Menentukan Besar Kuat Medan Gravitasi Bumi

Sebenarnya, nilai kuat medan gravitasi bumi sudah ditetapkan nilainya, yaitu sekitar 9,8 m/s2. Namun, nilai kuat medan gravitasi bumi di permukaan bumi sedikit bervariasi yang diakibatkan bumi tidak berbentuk bola sepenuhnya (jari-jari bumi berbeda di setiap permukaannya).

Untuk menentukan nilai kuat medan gravitasi bumi atau percepatan gravitasi, kita dapat melakukan percobaan bandul sederhana. Pertama, suatu benda diikatkan mengunakan benang atau tali. Lalu, panjang benang atau tali l diukur. Kemudian, benda yang dikaitkan dengan benang disimpangkan. Selang waktu yang dibutuhkan untuk n getaran diukur, dilambangkan Tn. Bagi Tn dengan n untuk mendapatkan selang waktu dalam 1 getaran, dilambangkan T1. Sebenarnya, kita bisa langsung mengukur nilai T1, tetapi hasil pengukuran tidak akan akurat.

Kita dapat menentukan nilai g dengan persamaan gerak harmoni bandul sederhana.
Dengan persamaan ini, kita dapat memasukkan nilai l dan T1 untuk mendapatkan nilai g.

2. Menentukan Panjang Jari-Jari Bumi

Kita dapat menggunakan Hukum III Kepler untuk menentukan panjang jari-jari bumi.
Nilai g telah didapatkan di percobaan sebelumnya. T merupakan periode rotasi bumi, besarnya sekitar 24 jam atau 86400 detik.

3. Menentukan Massa Bumi

Nilai M pada persamaan (1) dapat ditentukan dengan memasukkan nilai g pada persamaan (2) dan nilai R pada persamaan (3). G merupakan konstanta gravitasi universal yang bernilai sekitar 6,67×10-11.

Aplikasi Catatan Terbaik, OneNote

OneNote merupakan software catatan dari Microsoft. Aplikasi OneNote tersedia di PC, Android, dan iPhone. Selain OneNote, ada juga aplikasi catatan lain yang juga cukup terkenal, misalnya Evernote. Namun, OneNote adalah aplikasi catatan terbaik yang pernah aku temukan. Sesuai namanya, salah satu tujuan OneNote adalah menyatukan seluruh buku catatan yang kamu butuhkan dalam kehidupanmu. Dengan pengorganisiran yang hebat, OneNote dapat membuatmu nyaman mencatat seluruh hal yang kamu butuhkan.

Catatan tersusun dengan rapi
Di OneNote, kamu dapat menyimpan buku catatan sebanyak-banyaknya hanya dalam 1 satu aplikasi. Misalnya kamu dapat membuat buku catatan kerja, sekolah, masakan, penelitian, dan yang lainnya sebanyak yang kamu inginkan. Di setiap buku catatan dibagi lagi bagian-bagiannya (istilahnya : section). Kamu dapat menambahkan sendiri section (bagian) yang kamu inginkan. Contohnya kamu bisa menambahkan section seperti Matematika, Fisika, Bahasa Inggris ke dalam buku catatan sekolahmu di OneNote. Di setiap section, kamu juga dapat menambahkan page. Misalnya kamu dapat menahbahkan topik Trigonometri dan topik Kalkulus dalam section Matematika. Jika diperlukan, kamu juga dapat membuat subpage di OneNote. Misalnya kamu dapat menambahkan subtopik tentang Fungsi Trigonometri dan Persamaan Trigonometri di page Trigonometri. Penyusunan catatan ini dapat membuat kita merasa nyaman membuat ataupun membaca catatan di OneNote. Fitur pengorganisiran yang seperti ini cukup jarang dimiliki aplikasi pencatat lain sehingga hal ini merupakan keunggulan dari OneNote dibandingkan dengan yang lain.

Fitur yang lengkap
Di OneNote, tersedia banyak jenis font tulisan. Dan juga kamu dapat membuat tabel yang rapi dengan mudah. Selain itu, kamu dapat melampirkan file, record audio atau video, menyisipkan persamaan matematika, memproteksi section dengan password, translation, fitur menggambar, dan lain-lain. Sayangnya, fitur OneNote yang lengkap hanya ada di PC. Ada beberapa fitur aplikasi OneNote yang hilang di tablet dan smartphone.

Sinkronisasi dengan mudah
Kini, OneNote dapat disinkronkan secara online dengan menggunakan akun Microsoft. Jadi, kamu dapat membuka dan menulis catatanmu di mana saja.

Dan masih banyak keunggalan OneNote yang lainnya, seperti Full Color, menggambar dengan mudah, sticky notes yang ada screen cropping dan recording. Tuliskan ide-idemu dengan OneNote!
tata nama

Download OneNote 2013 sekarang juga, gratis!
Download OneNote 2013

Adding Sugar or Water?

This is an interesting question from my exam. Basically, we add sugar into a solution when we need more concentrated solution and vice versa. Therefore, in order to choose what we will add (sugar or water), we must know if the solution was concentrated or not.

In chemistry, we know that case by percent mass, percent volume, ppm mass, ppm volume, molarity, molality, normality, and mole fraction. A solution with high percent/ppm mass/volume tends to be more concentrated. How about the others? They are same like percent mass/volume. So, don’t get confused. The only thing we must know is one of the magnitude above.

For example, if its molarity is less than the molarity of the solution which we need to prepare, then we must add the solute into the solution. If its molarity is more than the solution’s molarity we need, we must add the water (solvent).

Proses Belajar yang Baik (Karya Ilmiah)

Sebenarnya ini udh pernah diposting sebelumnya. Tapi, karena waktu itu aku lagi sibuk, jadi postingannnya cukup jelek dan nggak enak dibaca. Nah, pada postingan inilah perbaikannya, intinya dibuat ulang (bukan di-edit).

Ini merupakan karya ilmiah pertamaku pada saat tugas pelajaran bahasa Indonesia waktu SMP dulu. Proses pembuatannya nggak lama, kurang-lebih satu bulan. Oh iya, tulisan ini murni hasil pikir gw sendiri. Ditambah beberapa sumber untuk memperkuat argumenku sih. Jadi maaf kalo isinya jelek.

Gambaran Singkat :
– Manfaat belajar
– Definisi belajar
– Faktor pendukung belajar
– Cara belajar yang baik


BAB I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Banyak pelajar yang merasa kesulitan dalam belajar. Hal itu dapat menimbulkan kebosanan dan kadang menimbulkan depresi bagi dirinya sendiri.  Kebosanan dan depresi tersebut dapat membuat pelajar menjadi jadi malas belajar. Jika malas, tentu akan mengalami kegagalan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kesulitan dalam belajar berpotensi besar untuk menghalangi kita menuju kesuksesan.

Setelah diteliti, ternyata masih banyak pelajar yang belajar dengan cara yang salah, seperti belajar dengan menghapal konsep (Low Thinking Order). Padahal, jauh lebih baik apabila belajar dengan memahami konsep, mengembangkan nalar, memecahkan masalah, dan berpikir logika (High Thinking Order). Parahnya, banyak pelajar yang berprinsip “belajar untuk ujian”, yang jelas-jelas merupakan kesalahan besar.

Permasalahan yang diambil disini adalah pelajar yang menggunakan cara belajar yang salah, seperti beberapa contoh  yang sudah dipaparkan. Dalam pemecahan masalahnya, diharapkankan pelajar mengetahui cara-cara belajar yang baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa manfaat belajar?
1.2.2 Apa definisi belajar?
1.2.3 Apa faktor-faktor pendukung belajar?
1.2.4 Bagaimana cara belajar yang baik?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.3.1 Tujuan Penulisan

Tujuannya adalah mengajak pelajar untuk belajar dengan cara yang baik. Selain itu, tujuannya adalah untuk memberitahu berbagai macam hal yang berhubungan dengan belajar baik di sekolah maupun di rumah.

1.3.2 Manfaat Penulisan

Manfaatnya agar pelajar tidak lagi kesulitan dalam belajar sehingga dapat meraih kesuksesan dengan mudah.

1.4 Kerangka Pemikiran

“Kita tidak berpikir dengan cara linear berurutan, namun setiap informasi yang disampaikan pada kita diberikan pada kita dengan cara linear…. kita diajari untuk berkomunikasi dalam cara yang sebenarnya membatasi kemampuan berpikir kita” – Richard Saul Wurman, Information Anxiety

“Kegilaan adalah ketika orang melakukan suatu hal yang sama, tetapi menginginkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein

Dua kutipan tersebut sangat berhubungan dengan apa yang dibahas. Yaitu mengenai cara belajar yang lebih baik dan inovatif sehingga dapat mencapai kesuksesan.

1.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam karya ilmiah ini, data dikumpulkan melalui sumber kepustakaan, yaitu berupa bahan-bahan bacaan seperti kamus, buku, koran, atau majalah. Selain itu, data juga dikumpukan dengan menjelajahi internet.

BAB II : Pembahasan

2.1 Manfaat Belajar

Sebagian orang berpendapat bahwa tingkat kepintaran manusia sudah diciptakan sejak manusia lahir. Ya, memang. Bakat manusia sudah diciptakan sejak manusia lahir. Tapi bakat tersebut masih bernilai nol karena masih belum terlihat. Artinya, bakat sejak lahir hanya merupakan potensi saja. Bakat akan terlihat apabila dikembangkan, diasah, dan dilatih. Dengan kata lain, belajar akan mengembangkan bakat.

Otak merupakan sistem saraf pusat yang memiliki jutaan neuron. Banyak informasi yang tersimpan di neuron. Ketika otak bekerja untuk bernalar, memahami, dan menyimpan informasi, maka dendrit yang terdapat di neuron yang bentuknya bercabang-cabang akan meningkat jumlahnya. Sebaliknya, ketika otak tidak dipergunakan, maka neuron akan memangkas dendrit-dendrit tersebut sehingga berkurang jumlahnya.

” Sebuah penelitian yang menyatakan bahwa otak adalah suatu organ yang dinamis : Jaringannya secara terus menerus dimodifikasi sebagai reaksi dari informasi, kebutuhan, dan perubahan dalam lingkungan.”
(Carole Wade, Psikologi : Edisi 9 Jilid 1)

Di zaman yang maju ini, penuh dengan kompetisi. Dimana orang yang tidak berilmu akan  merasa kesulitan dalam hidupnya. Maka dari itu, belajar sangatlah penting, baik formal maupun informal. Belajar mengajak kita untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah.

Perlu diingat, tidak ada kata “tidak bisa” dalam belajar. Banyak tokoh-tokoh dunia yang pada saat kecil dianggap bodoh dan tidak waras. Contohnya, Einstein dan Thomas Alfa Edison. Pada saat Einstein kecil, orang-orang di sekelilingnya mencapnya sebagai orang bodoh. Bahkan, Thomas Alfa Edison dikeluarkan dari sekolahnya sewaktu SD karena terlalu bodoh. Tapi sekarang ini, Einstein dikenal sebagai Bapak Fisika Modern dan Thomas Alfa Edison adalah ilmuan fisika yang paling banyak menemukan penemuan.

2.2 Definisi Belajar

Belajar adalah proses memahami yang mengakibatkan perubahan yang relatif permanen yang tidak bisa dilihat secara langsung (masih berupa potensi) maupun bisa dilihat dari perubahan tingkah laku. Belajar dapat berupa pengalaman, pengamatan, eksperimen, praktik, mengingat, diajari individu lain, membaca, dan lain-lain. Terkadang, belajar dapat menimbulkan perasaan bangga dalam diri sendiri karena paham dan mengerti apa yang dipelajari.

Apakah menghapal termasuk dalam kategori belajar?

Menghapal dapat digolongkan dalam belajar maupun tidak. Karena menghapal dapat memberikan perubahan bagi kita. Namun, apakah dengan cara menghapal kita bisa mengingat informasi secara permanen? Secara umum, mengapal dilakukan dengan cara mengingat kata perkata dan berurutan. Otak besar manusia terbagi 2, yaitu otak kiri dan otak kanan. Informasi berupa kata dan berurutan diproses oleh otak kiri karena otak kiri memang berfungsi untuk memproses informasi berupa angka, kata, berurutan, dan logika. Sedangkan otak kanan berfungsi untuk memproses informasi berupa gambar, musik, acak-acak, dan imajinatif. Otak kiri bersifat ‘short-term memory ‘ (memori jangka pendek), sedangkan otak kanan bersifat ‘long-term memory’ (memori jangka panjang).

Telah diketahui bahwa  belajar mengkibatkan perubahan yang relatif permanen. Jadi, menghapal tidak digolongkan dalam belajar apabila tidak menghasilkan perubahan yang relatif permanen. Dengan kata lain, menghapal tidak termasuk belajar apabila dilakukan dengan mengingat angka dan kata yang berurutan (diproses oleh otak kiri). Sebaliknya, menghapal termasuk dalam belajar apabila dilakukan dengan mengingat dengan gambar, suara, dan imajinatif. Mengahapal dengan menggunakan otak kanan dilakukan dengan cara-cara tertentu yang akan dibahas pada subbab selanjutnya.

Selanjutnya, mari kita bahas landasan teori sebelumnya di dalam karya ilmiah ini :

“Kita tidak berpikir dengan cara linear berurutan, namun setiap informasi yang disampaikan pada kita diberikan pada kita dengan cara linear…. kita diajari untuk berkomunikasi dalam cara yang sebenarnya membatasi kemampuan berpikir kita” – Richard Saul Wurman, Information Anxiety

Artinya, kita tidak bisa  belajar dengan menerima informasi secara datar dan berurutan. Contohnya, belajar dengan mendengarkan orang berceramah, membaca buku yang penuh dengan tulisan tanpa gambar, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan bertentangan dengan cara kerja otak manusia  yang bersifat meluas, abstrak, dan acak-acak. Sehingga kita memerlukan cara belajar yang terbaru (baik) yang dapat selaras dengan cara kerja otak kita.

“Kegilaan adalah ketika orang melakukan suatu hal yang sama, tetapi menginginkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein

Dalam hal belajar, hal ini berarti jika kita ingin mendapatkan hasil yang lebih baik maka kita harus mengubah gaya belajar dan strategi belajar yang inovatif dan lebih baik. Dengan kata lain, gaya belajar merupakan faktor penting dalam belajar yang akan dibahas pada subbab selanjutnya.

2.3 Faktor-Faktor Pendukung Belajar

Sebelum membahas gaya belajar, lebih baik membahas tentang kondisi dan lingkungan belajar. Lingkungan belajar sangat penting untuk diketahui, bahkan lebih penting daripada gaya-gaya belajar. Hal ini dikarenakan otak tidak bisa berproses dengan baik pada lingkungan belajar yang buruk.

Kita tidak dapat belajar dalam keadaan tertekan, emosi tidak stabil, stres, pikiran kacau, dan berpikiran negatif. Hal itu menghambat otak untuk berpikir lebih luas dan kreatif. Jadi, jika ingin belajarnya baik, tenangkanlah diri sebentar untuk menstabilkan diri.

Cara yang digunakan untuk menenangkan diri pada saat sedang stres ada banyak. Namun, ada sebuah cara yang disukai oleh penulis dalam menenangkan diri. Caranya adalah mengatur pola pernapasan atau lebih dikenal sebagai ‘meditasi’. Mengapa demikian? Coba perhatikan pada saat manusia sedang marah (emosi tidak stabil). Yang terlihat adalah pola pernapasannya menjadi tidak teratur. Sebaliknya, coba perhatikan pada saat manusia dalam keadaan biasa saja, maka pola pernapasannya akan menjadi sangat teratur. Meditasi sungguh sangat bermanfaat terutama untuk merelaksasikan diri. Penelitian mempercayai ingatan, perhatian, dan fokus merupakan keuntungan dari meditasi.

Proses pola perpasan yang baik adalah pola pernasan yang bisa membuat manusia tersebut menjadi nyaman. Boleh dengan bernapas panjang, bernapas sedang, ataupun bernapas pendek. Hal tersebut dilakukan sambil memfokuskan diri ke pernapasan tersebut. Suatu penelitian menunjukkan membiasakan diri dalam bermeditasi dapat memperbesar ukuran ‘cerebral cortex’ pada otak.

Hal itu merupakan cara mengatasi jika merasa tertekan dalam belajar. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Jadi bagaimana cara mencegahnya? Sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu apa penyebab kita menjadi tertekan dalam belajar.

Secara umum, hal yang dapat membuat kita menjadi tertekan dalam belajar dapat terbagi menjadi 2, yaitu :
1. Lingkungan fisik
2. Lingkungan sosial

Lingkungan fisik contohnya adalah suhu udara, pencahayaan, tingkat kebisingan, dan rangsangan visual. Sedangkan lingkungan sosial contohnya adalah hubungan dengan orang lain, merasa ikut atau tidak diikutsertakan, dan komunikasi.

“Iklim dan lingkungan ruang kelas harus kondusif untuk pembelajaran. Ruang kelas, yang secara fisik tidak nyaman atau terus memiliki atmosfir atau nada yang mengancam, akan meminimkan kemampuan otak para siswa untuk berpotensi pada potensi yang tertinggi. Pemahaman beberapa riset terbaru tentang bagaimana otak kita bereaksi terhadap stres dan ketakutan dapat menolong para guru untuk mengetahui apa yang harus tidak dilakukan dan mulai tahu apa yang harus dilakukan.”
(Kaufeldt 1999, 2)

Jelas bahwa ancaman, tekanan, dan kondisi lingkungan yang buruk dapat menurunkan kemampuan otak. Ketika itu, hampir semua otak manusia menjadi berkurang kemampuannya untuk melakukan salah satu dari hal-hal berikut untuk :
– Menjadi kreatif
– Melihat atau mendengar petunjuk tanda dari lingkungan
– Mengingat dan masuk pembelajaran sebelumnya
– Melakukan tugas-tugas yang kompleks, pemikiran yang terbuka, dan bertanya
– Memilah dan menyaring untuk membuang keluar data yang tidak berguna
– Merencanakan dan mengulang berlatih secara mental
– Mengenali pola-pola
– Berkomunikasi dengan efektif

Menciptakan lingkungan yang aman dan terjamin secara fisik, emosional, dan sosial, harus menjadi langkah pertama dalam memaksimalkan pembelajaran.

Bagaimana cara mencegahnya? Berikut adalah pencegahan permasalahan lingkungan dalam belajar :

Lingkungan Fisik


Cahaya yang paling baik untuk belajar adalah cahaya yang berasal dari matahari. Oleh karena itu, belajar di tempat terbuka adalah cara yang terbaik. Tapi apabila tidak memungkinkan, belajar mandiri dengan menggunakan lampu belajar juga baik agar kita fokus terhadap buku yang kita baca. Jika belajar di sekolah, lebih baik memakai cahaya matahar. Namun, jika masih gelap, gunakan lampu neon dengan jumlah yang cukup.


Jika belajar mandiri, usahakan menjauhkan diri dari keramaian orang. Bunyi-bunyi mengganggu yang berasal dari alat-alat listrik juga perlu dihindari. Namun, bagaimana jika di sekolah? Guru dan ketua kelas harus mampu membuat kelas menjadi tenang (tidak bising). Selain itu, diharapkan juga dapat melarang bernyanyi dan bermain alat musik di ruang kelas umum. Sebaiknya, bermusik dilakukan di kelas musik atau kesenian (jika ada).

Rangsangan Visual

Lingkungan belajar harus tertata dengan rapi. Meja belajar dan rak buku juga harus rapi. Selain itu kebersihan dan keindahan perlu diperhatikan. Warna dapat mempengaruhi emosi bagi sebagian orang. Warna juga dapat merangsang kreativitas dan berpikir sebagian orang. Jadi, gunakan buku-buku berwarna dan alat tulis berwarna untuk merangsang berpikir.

Suhu dan Kualitas Udara

Di Indonesia, permasalahan yang dihadapi berupa suhu udara yang panas. Pada saat belajar mandiri, gunakan AC (Air Conditioner) selama proses belajar (jika ada). Tanam tanaman yang dapat menyegarkan udara di ruangan baik di halaman rumah ataupun di sekolah. Jika ruangan sekolah tersebut tertutup, maka gunakan AC. Usahakan gunakan pengharum ruangan juga karena bau dapat mengganggu belajar.

Kebutuhan-Kebutuhan Dasar

Contohnya minum, makan, dan buang air. Minum dapat membuat otak menjadi kembali segar. Buang air kecil atau besar pada saat waktunya juga akan membantu proses belajar agar nyaman. Melarang pelajar untuk buang air besar atau kecil dapat membuat pelajar tersebut tidak nyaman dalam belajar.

Lingkungan Sosial

Tidak Saling Bersaing

Rasa persaingan dapat mengecilkan luas pandang berpikir. Belajar yang baik adalah belajar tanpa ada persaingan. Saling membantu dan bekerjasama dalam belajar adalah cara terbaik.

Merasa Diikutsertakan dalam Suatu Kelompok Sosial

Membuat kelompok belajar dapat membuat seseorang merasa diikutsertakan. Hal itu dapat mengembangkan kemampuan belajar dan kreativitas. Sama halnya dalam berdiskusi, guru harus mampu membuat setiap pelajar merasa diikutsertakan. Caranya adalah dengan membuat kelompok diskusi. Di sini, diharapkan guru dapat membagi anggota kelompok berdasarkan keahliannya masing-masing dan dapat mengaktifkan peran serta setiap anggota dalam kelompok tersebut.

2.4 Cara Belajar yang Baik

Niat adalah hal yang penting sebelum belajar. Sebelumnya, kita sudah tahu bahwa dalam belajar kita harus bebas dari segala tekanan dan paksaan. Temukan waktu yang cocok sehingga nyaman dalam belajar.

Kepercayaan diri juga mempengaruhi proses belajar. Kita harus yakin bahwa kita bisa menguasai apa yang kita pelajari. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita tidak bisa dan tidak mampu karena pepatah mengatakan apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi. Oleh karena itu, hendaknya harus berpikir positif.

Cara yang cukup efektif dalam meningkatkan percaya diri dalam belajar bagi penulis adalah dengan mengasumsikan bahwa kita ahli dalam hal apa yang kita pelajari. Misalnya, pada saat kita belajar bahasa Jepang, kita harus memikirkan bahwa kita adalah orang jepang yang sangat mahir berbahasa Jepang. Sehingga kita dapat berpikir positif yang membawa dampak positif bagi pembelajaran kita.

Belajar yang baik adalah belajar dengan memahami apa yang dipelajari, bukannya menghapal apa yang dipelajari. Memahami memang terasa lebih sulit daripada menghapal. Hal itu disebabkan karena dalam memahami, kita harus memikirkan hubungan dari suatu persoalan dengan pengalaman kita, berimajinasi, berpikir logika, lalu menarik kesimpulan. Hal tersebut memerlukan proses yang cukup lama. Sedangkan dalam menghapal, kita hanya mengingat kata-kata yang dihapal tanpa perlu masuk ke persoalan.

Tapi, apa perbedaan dari hasil proses memahami dan menghapal? Dengan memahami kita mendapat informasi yang bersifat relatif permanen. Sedangkan dengan menghapal belum tentu informasi tersebut akan tersimpan relatif permanen.

Dari hal tersebut, kita harus bisa mendapatkan informasi dari sumber yang bersifat mengajarkan untuk memahami. Menurut penulis, ini adalah masalah terbesar bagi Indonesia, yaitu menemukan sumber informasi yang berkualitas, termasuk dalam hal buku teks, guru, dosen, dan lain-lain. Saran dari penulis, jika ingin menggunakan buku teks yang berkualitas, dapat dicari dengan melihat biografi penulis buku tersebut khususnya riwayat pendidikannya. Jika biografinya bagus, kemungkinan besar kualitas buku tersebut juga bagus.

Belajar yang baik juga dapat dilakukan dengan mendalami suatu permasalahan. Semakin dalam permasalahan yang kita pelajari, maka kita semakin menguasai permasalahan tersebut. Jika hanya memahami garis besar suatu permasalahan, kita tidak akan dapat menguasai permasalahan tersebut. Sebagai contoh, pada pelajaran IPA yang membahas tentang matahari. Jika kita hanya memahami informasi umum pada matahari, mungkin kita masih belum bisa menguasai materi tersebut. Namun, jika kita memahami informasi-informasi umum dan khusus, serta bagaimana proses cara mendapatkan informasi tersebut, kemungkinan besar kita dapat menguasai materi tersebut.

Sama seperti proses memahami vs menghapal. Mendalami permasalahan juga membutuhkan waktu yang cukup lama dan lebih sulit daripada hanya sekadar mengetahui garis besar permasalahan. Pesan dari penulis, jangan pernah patah semangat dalam belajar. Kita harus tetap bersemangat dan bersabar. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapat hasil yang cukup memuaskan apabila kita belajar dengan bersabar.

Dalam belajar, kita juga harus kreatif. Misalnya, dalam pelajaran matematika. Permodelan beberapa soal matematika biasanya terdapat kemiripan. Dengan begitu kita harus dapat menemukan cara menyelesaikan model soal yang sama dengan mudah, yaitu membuat rumus-rumus baru sesuai model soal tersebut.

Bagaimana jika kita merasa sulit untuk memahami suatu persoalan? Jika begitu, maka caranya adalah dengan menghapalnya. Namun, menggunakan cara menghapal yang berbeda dengan biasanya agar dapat menyimpannya secara relatif permanen. Berikut beberapa metode yang baik dalam menghapal :

Metode Chunking

Bagaimana cara anda menghapal nomor HP anda? Pasti, dengan memisahkannya menjadi beberapa bagian, kan? Kira-kira seperti itulah gambaran dari metode chunking. Metode ini berfungsi untuk menghapal konstanta fisika atau matematika yang berisi angka panjang. Contohnya, nilai konstanta gravitasi adalah 6,67035 x 10-11. Dengan menggunakan metode chunking, kita dapat memisahkan angka-anga tersebut sesuai keinginan kita. Misalnya, 6,67-0-35-10-11. Sehingga lebih mudah menghapalnya dibandingkan dengan sebelum dipisahkan.

Mencatat dengan Pulpen Berwarna

Informasi yang sangat sulit untuk dipahami dapat dihapal dengan mencatatnya dengan pulpen berwarna. Warna dipercaya dapat merangsang kerja otak kanan. Variasi warna yang baik dapat membantu mengorganisir informasi lebih baik.

Metode Asosiasi

Untuk menyimpan informasi secara relatif permanen dapat juga dilakukan dengan metode asosiasi. Metode asosiasi adalah menyamakan beberapa kata dengan kata-kata yang lain yang memiliki persamaan bentuk kata, lalu membuat akronimnya sehingga mudah dihapal. Contohnya, dalam pelajaran IPA kita belajar tentang struktur jaringan batang atau akar tumbuhan. Struktur jaringannya dari luar ke dalam, yaitu epidermis, korteks, endodermis, perisikel, floem, kambium, xylem, empulur. Tentu, jika kita menghapalnya secara biasa, maka suatu saat kita dapat melupakannya. Namun, dengan menggunakan metode asosiasi, kita dapat menyimpan informasi tersebut secara permanen. Caranya, epidermis = e, korteks =kor, endodermis = endo, perisikel = persis, floem = paha, kambium = kambing, xylem = siiy, empulur = em. Jika akroronim tersebut digabung, maka menjadi “EKor Endo Persis Paha Kambing SiiyEm”. Kelebihannya, dengan mengingat kalimat tersebut, kita dapat mengingat struktur jaringannya secara permanen.

Contoh lainnya adalah jika kita ingin mengingat unsur kimia golongan I-A, yaitu : Hidrogen (H), Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Sesium (Cs), Fransium (Fr). Dengan menggunakan metode asosiasi, kita dapat mengubahnya menjadi “Hari LIbur NAik Kuda RaBu CamiS FRee (Hari libur naik kuda rabu kamis free)”.

Selain memudahkan kita untuk mengingat, metode asosiasi juga mengajak kita untuk berpikir kreatif dalam membuat asosiasi. Menurut penulis, semakin aneh kalimat asosiasi yang dibuat maka semakin mudah untuk mengingat asosiasi tersebut. Jadi, mari berpikir kreatif!

Begitulah metode menghapal yang digunakan penulis. Namun, perlu diingat, metode menghapal ini hanya digunakan ketika kita tidak sanggup untuk memahaminya dan sangat sulit untuk mengingat informasi tersebut.

BAB III : Penutup

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Selain itu, belajar dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan cara yang menarik. Cara-cara tersebut dapat meningkatkan hasil yang kita peroleh dalam belajar. Beberapa faktor-faktor pendukung belajar juga sangat penting. Hal tersebut membantu kita agar belajar secara nyaman dan tanpa tertekan (stres).

3.2 Saran

Saran dari penulis adalah jangan pernah menyerah  dan putus asa dalam belajar. Tetap bersemangat dan terus belajar. Mengembangkan berbagai macam kreativitas dalam belajar. Dan memiliki gaya belajar yang lebih menarik. Semakin banyak kita menggunakan berbagai gaya belajar, maka semakin banyak yang akan dikuasai dari apa yang dipelajari.

Pelajaran yang Terpenting

%d bloggers like this: