Category Archives: Umum

Thinking by Understanding

I remember when I learned atomic structure in chemistry on the first grade of SMA. I was completely clueless about the material. What is Wien’s displacement? What is photoelectric effect? How is atomic model found? What is Brackett series? What is the reason of electron configuration and quantum number being used? What is the interconnection of each subtopics? I received random information which I had to memorize without consideration. Back then, I never realized why the information could be like that, how it could come like that, or what benefits I could get from learning it. I just memorized it since the teachers (from inside and outside my school) never explained those things in detail, they just asked me to memorize it. But surprisingly, I forget about it now (two years later). In my opinion, we can easily forget something when we haven’t processed them well in our brain, in this case, we only memorize, not understand it. So, the solution of this problem is simply understanding the information. But, how can we apply the understanding skill into our thinking? We get used to just memorizing something since primary school. We ‘love’ memorizing. We ‘love’ getting instructed and prohibited by our teachers and parents without knowing the object. We ‘love’ thinking simply and conveniently. Probably, we don’t realize them, but we do.

I am really glad by the presence of curriculum 2013. I think it is the best tool to revolutionize our thinking, so that we get used to thinking by understanding. But, it is impossible to execute well curriculum 2013 because it is confusing about what methods the teachers must carry out. We need professor-level teachers to do so. Perhaps, I talk too far. To specify, I will give example for what makes us ‘love’ thinking simply and conveniently. It is not entirely our fault. It is the education system too. The system gives standardization to us by the problem that we solve in the school exam. Consequently, it is not rare that the teacher just focus to explain the problem solutions as many as possible to make us to get used to solving the problem in the exam. Yes, we can solve the problems by this, but we understand nothing about the material concept we learned. Another example, I’ve been learning by using booklet as the primary book in my school. It is a small book made by some pieces of HVS paper. It contains one topic that has a summary of random information (which the connection of each subtopics is not given) with less explanation and less figural illustration. In my opinion, the book compels me to blindly memorize the content. It can be tolerated if we use it as a secondary book, but the teacher use it as a primary book instead of a secondary one. I think this is what makes we ‘love’ memorizing.

I have some suggestion to get used to thinking by understanding so that we can remember well the information :
1. Always put “Why?” question on every information you get
2. Never memorize the things that you don’t understand until you fully understand about it
3. Read books, browse on internet, or ask teacher about information you can’t understand

Kekuatan di Balik Ungkapan “Aku Pasti Bisa!”

Ya, ini memang cuma ungkapan yang terdiri dari tiga kata yang sederhana. Namun, aku percaya bahwa ungkapan ini punya kekuatan tersendiri. Kekuatan yang mampu mengangkatmu dari tempat tidur dan memaksamu untuk terus berusaha dan berlatih. Kekuatan yang dapat meningkatkan kepercayaan dirimu. Dan pada akhirnya, kekuatan ini mampu membawamu menggapai tujuanmu.

“Aku pasti bisa!”

Kelas Unggulan dan Kelas Biasa

Di Indonesia, hampir semua sekolah menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan kemampuan siswa. Biasanya, kelas secara umum terbagi menjadi dua jenis ; kelas unggulan, yang berisi siswa-siswa pilihan yang punya kemampuan belajar lebih tinggi dari siswa biasa ; dan kelas biasa, yang berisi siswa-siswa yang “dianggap” biasa.

Dulu aku berpikir, apakah pembagian kelas dalam sistem pendidikan ini sudah benar. Bukannya ini artinya seolah-olah ada ketidakikhlasan dalam pendidikan yang harusnya bertujuan mendidik siswa-siwanya secara keseluruhan. Bukannya ini dapat menciptakan suasana diskriminatif yang mungkin dapat menurunkan mental siswa-siswa yang “dianggap” biasa tersebut. Bukannya ini artinya pendidikan lebih difokuskan kepada orang-orang yang pintar saja. Kalau mereka beralasan mendidik siswa biasa berbeda dengan mendidik siswa pilihan, sehingga diperlukan pembagian kelas ; bukannya artinya mereka meremehkan siswa biasa tersebut.

Namun, semakin lama aku semakin sadar bahwa pendapatku tidak sepenuhnya benar. Ilmu bukan didapat dari kemampuan otak. Ilmu berasal dari usaha belajar yang dilakukan. Kemampuan otak hanya sedikit memengaruhi ilmu yang kita peroleh. Passion, semangat, dan tak pernah putus asa adalah faktor utama dalam proses belajar.

Kesimpulannya, menurutku pembagian kelas bukan bertujuan untuk membedakan siswa pintar dan bodoh, tetapi untuk memisahkan siswa rajin dan pemalas. Itu dikarenakan pemilihan siswa yang berasal dari nilai ujian memiliki arti bahwa siswa yang memiliki nilai tinggi disebabkan karena rajin, bukan karena pintar (kemampuan otak tinggi). Dengan sistem ini, diharapkan pola pikir dan semangat siswa yang rajin tidak dilunturkan oleh siswa yang pemalas.

Selain itu, juga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak selamanya siswa biasa akan terus tetap di kelas biasa. Itu karena biasanya akan ada perubahan kelas siswa di setiap tahun. Asalkan mempunyai semangat dalam belajar, keadaan akan berubah. Sehingga, kita dapat memandang pembagian kelas ini sebagai motivasi untuk meningkatkan semangat belajar.

Dream… Pride… Passion… Challenge…

Indonesian translation will follow. (Ada terjemahan Indonesia di akhir tulisan ini.)

These are the four words that engage me to do superb things until now. When I almost gave up to do a difficult task, these words always supported me. For me, there is magical power inside each of these words.

Dream is not something that I can go easy in determining it. It is what my life is for. Sometimes, I was told by people not to have a big dream, just realize my limitation. However, I deny that saying. It is true that I have a bunch of limitation, but it won’t be a reason to limit my dream too. What’s wrong if an ordinary student like me has a great dream. I think, dream is a media to create hard work, creativity, and innovation. It is because dream is something that I believe I can reach it. Thus, if I have a big dream, then I must work harder to equalize my efforts to my big dream. My conception is when I have a bigger dream, I have more things to boost me.

For me, pride doesn’t make me becoming a snob. Pride gives me more confidence in work. Pride is something I must have when I have a great discovery. With this, I may be able to continue my work confidentially.

Passion is a compelling love to area of interests. Life with passion is really wonderful. For me, passion can beat money. Logically, what money is for is to buy happiness. Hence, when I have already had happiness in my passionate life, money is no use at all. It is more enjoyable when I get success in creating something that I made passionately. However, it is possible that I can fail creating that thing. But, as long as I still have passion in my heart, I won’t give up. This is the power of passion.

Why do scientists still love creating intricate invention even though the probability of the invention success is near zero percent? It is because of challenge. It is because few people or even nobody could do the work. This part is the interesting point. The work becomes worth to do because it will be very useful if it is succeed.

Apparently, lately, I almost completely forget about the four-word I favored when I was still young. School projects, tasks, homework, and exams push me to do something that I am expected to do. By school scoring system, I feel an obligation to get high score even though I never put any passion into it. By school scoring system, I am afraid of challenge due to getting high score. It is like I sacrifice myself to my work without any happiness resulting to me.

Nevertheless, there is a J-Drama titled “Shitamachi Rocket” or “Downtown Rocket” which makes me remember about these words. The drama really touched my heart. Thanks to it, I can retrieve my zest now.


Ini adalah empat kata-kata yang mendorongku untuk melakukan hal-hal yang luar biasa sampai saat ini. Ketika aku hampir menyerah mengerjakan suatu tugas yang berat, kata-kata inilah yang selalu menyemangatiku. Bagiku, ada suatu kekuatan ajaib di setiap kata-kata ini.

Dream (impian) bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah aku tetapkan. Dream adalah tujuan aku hidup. Kadang-kadang, orang-orang bilang jangan bermimpi terlalu tinggi, sadari keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki. Meskipun demikian, aku tidak setuju. Memang, aku punya banyak keterbatasan, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membatasi dream-ku juga. Apa salahnya siswa biasa sepertiku punya dream yang tinggi. Pendapatku, dream adalah media untuk menumbuhkan kerja keras, kreativitas, dan inovasi. Itu karena dream adalah sesuatu yang aku yakin aku bisa meraihnya. Oleh karena itu, jika aku punya dream yang tinggi, maka aku harus bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan usahaku dengan dream-ku yang tinggi itu. Pemikiranku adalah ketika aku punya mimpi yang lebih tinggi, maka akan lebih banyak hal-hal yang akan mendorongku.

Bagiku, pride (kebanggaan) tidak membuatku menjadi sombong. Pride malah membuatku semakin percaya diri dalam bekerja. Pride adalah sesuatu yang harus aku miliki ketika aku mendapatkan pencapaian yang hebat. Dengan pride, aku mungkin bisa melanjutkan pekerjaanku dengan percaya diri.

Passion (gairah) adalah cinta yang dahsyat terhadap hal-hal yang ditekuni. Hidup dengan passion sangat menyenangkan. Bagiku passion dapat mengalahkan uang. Secara logika, uang digunakan untuk membeli kesenangan. Oleh karena itu, ketika aku sudah punya kesenangan dalam hidupku yang ber-passion, uang tidak akan ada gunanya sama sekali. Hidup jadi lebih menyenangkan ketika aku berhasil menciptakan sesuatu yang aku buat dengan penuh passion. Meskipun begitu, bisa jadi aku gagal dalam menciptakan sesuatu yang aku buat dengan penuh passion itu. Tapi selama aku masih punya passion di hatiku, aku tidak akan menyerah. Inilah kekuatan passion.

Mengapa ilmuwan tetap mencintai membuat penemuan yang sangat rumit, meskipun peluang berhasilnya penemuan itu hampir tidak ada? Itu karena challenge (tantangan). Itu karena cuma sedikit atau bahkan tidak ada orang yang bisa mengerjakannya. Di sini lah bagian yang menariknya. Pekerjaan itu menjadi bernilai untuk dikerjakan karena pasti akan jadi sangat berguna bila berhasil.

Sebenarnya, akhir-akhir ini aku hampir lupa mengenai empat kata yang aku sukai ketika aku masih kecil ini. Proyek sekolah, tugas, PR, dan ujian memaksaku untuk melakukan sesuatu yang mereka harapkan. Dengan sistem penilaian sekolah, aku merasa meraih nilai setinggi-tingginya adalah suatu kewajiban meskipun aku tidak menaruh hatiku sama sekali terhadap kewajiban tersebut. Dengan sistem penilaian sekolah, aku jadi takut tantangan dikarenakan untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Itu seperti aku mengorbankan diriku untuk bekerja tanpa ada kesenangan yang aku dapat.

Meskipun demikian, ada J-Drama yang berjudul “Shitamachi Rocket” yang mengingatkanku kembali terhadap empat kata itu. Dramanya sangat menyentuh hatiku. Terima kasih kepadanya, sekarang aku dapat mengembalikan semangatku.

Aplikasi Catatan Terbaik, OneNote

OneNote merupakan software catatan dari Microsoft. Aplikasi OneNote tersedia di PC, Android, dan iPhone. Selain OneNote, ada juga aplikasi catatan lain yang juga cukup terkenal, misalnya Evernote. Namun, OneNote adalah aplikasi catatan terbaik yang pernah aku temukan. Sesuai namanya, salah satu tujuan OneNote adalah menyatukan seluruh buku catatan yang kamu butuhkan dalam kehidupanmu. Dengan pengorganisiran yang hebat, OneNote dapat membuatmu nyaman mencatat seluruh hal yang kamu butuhkan.

Catatan tersusun dengan rapi
Di OneNote, kamu dapat menyimpan buku catatan sebanyak-banyaknya hanya dalam 1 satu aplikasi. Misalnya kamu dapat membuat buku catatan kerja, sekolah, masakan, penelitian, dan yang lainnya sebanyak yang kamu inginkan. Di setiap buku catatan dibagi lagi bagian-bagiannya (istilahnya : section). Kamu dapat menambahkan sendiri section (bagian) yang kamu inginkan. Contohnya kamu bisa menambahkan section seperti Matematika, Fisika, Bahasa Inggris ke dalam buku catatan sekolahmu di OneNote. Di setiap section, kamu juga dapat menambahkan page. Misalnya kamu dapat menahbahkan topik Trigonometri dan topik Kalkulus dalam section Matematika. Jika diperlukan, kamu juga dapat membuat subpage di OneNote. Misalnya kamu dapat menambahkan subtopik tentang Fungsi Trigonometri dan Persamaan Trigonometri di page Trigonometri. Penyusunan catatan ini dapat membuat kita merasa nyaman membuat ataupun membaca catatan di OneNote. Fitur pengorganisiran yang seperti ini cukup jarang dimiliki aplikasi pencatat lain sehingga hal ini merupakan keunggulan dari OneNote dibandingkan dengan yang lain.

Fitur yang lengkap
Di OneNote, tersedia banyak jenis font tulisan. Dan juga kamu dapat membuat tabel yang rapi dengan mudah. Selain itu, kamu dapat melampirkan file, record audio atau video, menyisipkan persamaan matematika, memproteksi section dengan password, translation, fitur menggambar, dan lain-lain. Sayangnya, fitur OneNote yang lengkap hanya ada di PC. Ada beberapa fitur aplikasi OneNote yang hilang di tablet dan smartphone.

Sinkronisasi dengan mudah
Kini, OneNote dapat disinkronkan secara online dengan menggunakan akun Microsoft. Jadi, kamu dapat membuka dan menulis catatanmu di mana saja.

Dan masih banyak keunggalan OneNote yang lainnya, seperti Full Color, menggambar dengan mudah, sticky notes yang ada screen cropping dan recording. Tuliskan ide-idemu dengan OneNote!
tata nama

Download OneNote 2013 sekarang juga, gratis!
Download OneNote 2013

Murder Case at Home (Case and Resolution)

Kasus ini berasal dari “Detektif-Detektif Indonesia”, sebuah channel di BBM (PIN: C0032145E). Aku repost di blog ini untuk mengarsipkannya. Ikuti pekembangan case dariku di “Detektif-Detektif Indonesia”.


Didi (26 tahun, penulis) ditemukan tewas di kamar andi rumahnya. Korban meninggal karena kepalanya yang tertusuk pisau dan banyak cabikan dan luka di tubuh korban. Seluruh lantai di rumah korban berdarah dan juga terdapat lumpur.Di pakaian korban terdapat noda kopi. Menurut keterangan seorang tersangka, korban ditemukan oleh Ben (23 tahun, petani), adik korban, sewaktu dia pulang ke rumah. Namun, pintu kamar mandi yang gagangnya berbentuk lingkaran terkunci dari dalam. Jadi, polisi yang membukanya dengan keahlian tertentu. Di kamar mandi itu, terdapat jendela kecil yang terkunci rapat. Polisi ragu apakah ini kasus pembunuhan atau bunuh diri. Jika ini kasus pembunuhan, polisi mencurigai :

1. Ben, adik korban. “Pada saat itu, aku pulang dari sawah dengan mengendarai sepeda. Dan pada saat itu, aku melihat lantai yang penuh darah. Dan aku cari abangku dimana-mana, tetapi tidak ada. Pada saat itu, ada pintu kamar mandi yang terkunci, aku tidak berani membukanya, jadi kutelepon polisi untuk membukanya.”

2. Kurosaki, teman korban. “Pada saat itu, aku berkunjung ke rumah korban untuk mendiskusikan tentang sebuah buku yang kami buat bersama-sama. Setelah selesai, aku pulang ke rumahku.”

Polisi bingung apakah ini kasus pembunuhan atau bunuh diri. Jika pembunuhan, bagaimana trik si pelaku agar dapat keluar dari pintu yang terkunci? Dan juga, siapa pelakunya?


Pembunuhnya adalah Kurosaki, rekan korban dalam menulis suatu buku. Hal ini dapat diketahui dari noda kopi di pakaian korban. Mungkin pada saat korban mengundang kurosaki, mereka membuat kopi sambil membahas masalah buku yang akan mereka buat. Lalu, pada saat Kurosaki membunuh korban, korban menumpahkan sedikit kopi di pakaiannya untuk memberi pesan bahwa tamunya yang telah membunuhnya. Noda kopi itu bukan pesan kematian yang dibuat-buat Ben, si adik, untuk melimpahkan tuduhan kepada Kurosaki, jika Ben pembunuhnya. Hal itu karena Ben tidak tahu bahwa Kurosaki akan datang mengunjungi abangnya, karena dia berada di sawah dari pagi hari. Motif pembunuhannya mungkin mengenai masalah pembuatan buku tersebut. Ini dapat diketahui dari pembunuhannya yang tidak terencana.

Kurosaki membunuh korban di ruang tamu dan menyeretnya ke kamar mandi sehingga ada banyak darah di lantai rumah korban. Dia memasukkan korban ke kamar mandi, lalu menekan tombol di tengah gagang pintu bagian dalam pada saat pintu terbuka. Lalu, ia keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya dengan menariknya tanpa memutarnya. Sehingga pintu tidak bisa dibuka dari luar dan terciptalah pembunuhan ruang tertutup.

Beberapa kondisi pengecoh :

1. Ada lumpur di lantai. Bagaimana jika kamu pulang ke rumah, lalu melihat banyak darah di lantai? Panik, bukan? Dalam kasus ini, Ben panik sehingga lupa melepas sepatunya yang berlumpur sehabis pulang dari sawah. Lalu, Ben mencari korban di rumahnya, sehingga banyak lumpur di lantai.

2. Jendela kecil yang terkunci rapat. Jelas tidak mungkin melakukan pembunuhan ruang tertutup dengan melibatkan jendela ini.


Sisi Lain Olimpiade Sains

Maaf, sebenarnya aku sih nggak suka copas artikel orang lain. Tapi, aku kira ini cukup penting untuk membuka pikiran kita. Dan juga websitenya prof mikrajuddin jg udh expired, jadi nggak ada salahnya kalau aku repost balik.

Sisi Lain Olimpiade Sains
oleh: Mikrajuddin Abdullah

Kita patut mengucapkan selamat kepada tim olimpiade fisika Indonesia yang baru saja meraih prestasi tertinggi dalam IPhO ke-37 tanggal 8 – 16 Juli lalu di Singapura. Empat medali emas dan satu medali perak berhasil diraih dalam lomba tersebut. Prestasi ini membanggakan kita semua dan semakin meyakinkan kita bahwa kemampuan siswa-siswa kita sejajar dengan siswa-siswa dari negara yang lebih maju asal dibina dengan baik. Pembinaan yang baik juga bermakna penyediaan dana yang cukup besar bagi dunia pendidikan karena tidak kecil dana yang dikelurkan untuk melatih siswa-siswa peserta olimpiade tersebut.

Sudah banyak ulasan tentang kehebatan siswa-siswa peserta olimpiade kita oleh media cetak maupun elektronik. Pada tulisan ini saya ingin mengangkat sisi lain tentang olimpiade yang mungkin kurang muncul di permukaan. Saya ingin memaparkan proses apa yang berlangsung selama olimpiade sehingga kita bisa melihat lebih komprehensif faktor-faktor apa yang berperan dalam menentukan keberhasilan siswa meraih penghargaan.

1. Pemilihan Soal
Sehari sebelum pelaksanaan ujian teori, diadakan diskusi pemilihan soal-soal (problems selection) yang akan diujikan besok. Program ini melibatkan para juri dan semua pendamping siswa. Panitia membuat bank soal yang cukup banyak, dan soal mana yang akan diujikan dirembuk secara bersama dalam ruang tertutup antara juri dan semua pendampung siswa. Di sini sering muncul perdebatan seru antara pembina dengan juri atau sesama pembina dari negara berbeda. Pasti semua pembina berkeinginan agar sebanyak-banyaknya soal yang diujikan adalah soal yang dapat diselesaikan oleh siswanya. Beberapa argumen seperti soal tidak sesuai silabus atau terlalu sulit bagi siswa sekolah menengah kadang muncul untuk menolak soal yang diperkirakan tidak sanggup dikerjakan siswanya. Program ini berlangsung berjam-jam.

Diskusi ini juga menyangkut pemberian bobot pada masing-masing soal yang akan diujikan. Pembina yang cerdik akan berusaha mengusukan bobot yang cukup tinggi bagi soal yang sekiranya dapat diselesaikan oleh siswanya dan menguslkan bobot yang rendah bagi soal yang sekiranya akan gagal diselesaikan oleh siswanya. Setelah pemilihan soal selesai, para pembina menerjemahkan soal-soal tersebut ke dalam bahasa negaranya masing-masing. Jadi yang dihadapi oleh para siswa bukan lagi soal dalam bahasa Inggris, tetapi soal dalam bahasa negaranya. Ada juga kekhawatiran bahwa penerjemahan ini memunculkan hint-hint tersembunyi bagi para siswa.

2. Tingkat Kesulitan Soal
Umumnya tingkat kesulitan soal yang diujikan di IPhO tidak lebih dari pelajaran tingkat II di perguruan tinggi. Pernyataan bahwa tingkat kesulitan soal IPhO setara dengan kuliah S2 atau topik riset doktor seperti yang dimuat di media massa terlalu dibesar-besarkan. Dalam pasal #5 Statutes of IPhO versi 1999 yang dibuat di Podova, Italia disebutkan bahwa “pelajar sekolah menengah atas harus dapat menyelesaikan soal-soal kompetisi dengan menggunakan matematika standar yang diajarkan di sekolah menengah atas tanpa memerlukan perhitungan numerik yang intensif”. Sebagai contoh dalam IPhO ke-33 di Bali, dari empat soal teori yang diujikan, tiga soal setara dengan ujian fisika tingkat I dan satu soal (tentang ground penetrating radar) setara dengan ujian mata kuliah gelombang di tingkat II.

Juga dalam silabus IPhO disebutkan:

a. Untuk menyelesaikan soal-soal yang diujikan tidak boleh menuntut penggunaan kalkulus (diferensial dan integral), penggunaan bilangan kompleks dan pemecahan persamaan diferensial secara intensif.

b. Pertanyaan dapat juga menyangkut konsep dan fenomena yang tidak terkandung dalam silabus, tetapi informasi-informasi yang cukup harus diberikan sehingga para peserta yang semula tidak mengenal topik tersebut tidak merasa dirugikan.

c. Alat ekperiment khusus yang tidak terbiasa bagi peserta tidak boleh mendominasi eksperimen. Jika perlatan tersebut digunakan, maka instruksi yang teliti harus diberikan ke para peserta.

3. Diskusi Jawaban
Saat siswa mengikuti ujian, para juri dan semua pembina mendiskusikan jawaban untuk masing-masing soal. Di sini pun bisa muncul perdebatan. Pembina yang bisa memprediksi arah jawaban siswa akan berusaha agar bentuk jawaban yang ia perkirakan merupakan bentuk jawaban dari siswanya dibenarkan (diberi bobot nilai). Dalam sejumlah tahapan diskusi, akan tampak sejumlah pembina sangat ngotot dan sejumlah pembina yang adem-ayem. Pembina ngotot ini biasanya telah diberi beban meraih medali sebanyak-banyaknya oleh pemerintahnya. Hasil diskusi ini menjadi patokan para juri dalam memberikan penilaian pada jawaban siswa.

4. Pemeriksanaan Jawaban
Pemeriksanaan jawaban dilakukan oleh para juri. Namun para pembina juga diberi kesempatan untuk menilai sebagai bahan perbandingan. Hasil penilaian juri dan pembina didiskusikan saat tahap moderasi.

Setelah jawaban siswa dikumpulkan, maka lembar jawaban tersebut difoto copy: satu untuk juri dan satu untuk pembina. Setelah itulah juri melakukan koreksi dengan mengacu pada jawaban yang telah disepakati sebelumnya.

Proses serupa terjadi pada saat pelaksanan ujian ekperimen. Hanya di sini tidak ada proses pemilihan soal, karena perubahan soal akan mengganti alat eksperimen yang akan digunakan, dan ini tidak mungkin. Jenis eksperimen menjadi hak prerogatif panitia. Yang didiskusikan sebelum ujian eksperimen hanya redaksi kalimat dalam petunjuk eksperimen serta bobot nilai tiap-tiap tahap. Saat eksperimen berlangsung, juri dan semua pembina mendiskusikan jawaban, termasuk menduskusikan berapa nilai yang harus diberikan jika jawaban yang diberikan siswa tidak tuntas.

5. Moderasi
Moderasi merupakan salah satu tahap yang paling seru dari keseluruhan tahap olimpiade. Hasil penilaian juri dan pembina siswa dibandingkan. Jika pembina merasa juri memberikan nilai yang lebih rendah dari nilai menurut dia, maka ia bisa berargumentasi. Seluruh kekuatan argumentasi dikerahkan untuk menambah nilai siswa. Sebaliknya, jika nilai yang diberikan juri lebih tinggi dari nilai perkiraan pembina, biasanya langsung dilewati. Hasil dari moderasi umumnya peningkatan nilai siswa. Pembina yang pandai berargumen dapat menghasilkan tambahan nilai yang sangat signifikan bagi siswanya dalam proses moderasi ini. Sebaliknya, pembina yang kalem dan kurang percaya diri dalam bahasa Inggris biasanya tidak mendapatkan tambahan nilai yang berarti.

Tahap moderasi sedikit membiaskan objektivitas juri. Juri yang semula memberikan penilaian objektif pada jawaban seluruh siswa menjadi kurang objektif lagi. Intervensi pembina bisa memberikan tambahan nilai yang berbeda bagi peserta dari negara yang berbeda. Pernah dalam salah satu olimpiade, pembina dari sebuah negara sempat menangis-nangis agar nilai siswanya dinaikkan oleh juri pada proses moderasi ini. Pembina tersebut sudah kehabisan bahan argumentasi dan dia merasa nilai akhir siswanya masih belum memuaskan.

6. Pertemuan Akhir
Pertemuan akhir dihadiri oleh juri dan semua pembina. Pertemuan ini juga akan seru karena akan menentukan batas nilai bagi peraih emas, peraih perak, dan peraih perunggu. “Yang agak aneh” di sini adalah jumlah medali yang dibagikan tidak ditentukan dari awal. Jumlah medali yang dibagikan bergantung pada kesepakatan dalam pertemuan akhir ini.

Pembina yang menduga siswa-siswanya tidak bertengger di rangking atas akan berusaha mati-matian agar batas nilai untuk meraih medali emas direndahkan sehingga siswanya dapat menggondol medali emas. Setelah itu ia berusaha agar batas perak diturunkan jika ia menduga siswanya tidak bertengger di rangking atas setelah siswa peraih emas dikeluarkan dalam daftar. Begitu pula dengan batas peraih perunggu. Siswa-siswa yang tidak meraih medali emas, perak, maupun perunggu hampir semuanya akan diberi penghargaan honorable mention. Jadi semua peserta olimpiade akan mendapat penghargaan. Tidak ada yang pulang dengan tangan hampa.

Pada IPhO ke-33 di Bali tahun 2002, jumlah peserta adalah 296 orang. Jumlah peserta peraih medali emas adalah 42 orang, peraih medali perak 37 orang, peraih medali perunggu adalah 58 orang dan honorable mention 68 orang (Total 296 orang). Tampak di sini bahwa meraih medali emas dalam IPhO bukan berarti siswa tersebut berada di rangking-rangking atas, misalnya “top ten”. Seperti dalam IPhO di Bali, siswa pada rangking 42 juga memperoleh medali emas.

Pemberian medali ini berbeda dengan kebiasaan dalam lomba yang sering kita jumpai di mana jumlah medali biasanya sudah ditentukan dari awal, misalnya emas 1 medali, perak 1 medali, perunggu 1 atau 2 medali, sehingga yang menggondol emas benar-benar yang menempati posisi puncak, penggondol perak adalah yang menempati posisi kedua dan penggondol perunggu adalah yang menempati posisi ketiga. Tidak ada tawar menawar untuk menjadikan medali emas lima buah sehingga yang menempati rengking satu sampai lima mendapat medali emas. Dalam olimpiade fisika, bisa terjadi saat ini jumlah peraih emas 20 orang, tahun berikutnya 30 orang, tahun lainnya 50 orang, dan seterusnya. Hal itu semata-mata bergantung pada kesepakatan antara juri dan pembina berapa batas bawah nilai untuk masing-masing peraih medali.

7. Ke Mana Para Siswa
Pada uraian di atas kita melihat aktivitas para pembina selama olimpiade berlangsung. Lalu apa kegiatan siswa? Kegiatan siwa tidak banyak: mengikuti test tertulis dan test eksperimen, setelah itu selesai. Setelah mengikuti dua test tersebut para siswa biasanya diajak piknik. Hampir seluruh waktu olimpiade diisi oleh para pembina. Pembina dapat berperan besar menjadikan siswanya meraih medali emas, perak, atau perunggu. Sebagai contoh, dia bisa mengubah siswanya yang semula berada pada daftar peraih perak menjadi peraih emas, atau yang semula berada pada daftar peraih perunggu menjadi peraih perak. Beda nilai peraih emas dan perak tidak terlalu besar. Jika dalam proses moderasi dia berhasil mendapatkan tambahan nilai nol koma sekian, maka bisa jadi tambahan tersebut menyebabkan siswa masuk dalam daftar peraih emas.

8. Pelajaran yang dipetik
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini terjadi euforia olimpiade di semua daerah Indonesia. Rasanya tidak afdol jika sebuah daerah belum memiliki siswa peraih medali olimpiade dari daerahnya. Segala usaha dilakukan seperti pelatihan khusus bagi sejumlah siswa berprestasi. Daerah-daerah kaya tidak ragu-ragu menggelontorkan dana besar hanya untuk melatih beberapa siswanya agar dapat meraih medali dalam olimpiade, baik nasional maupun internasional. Olimpiade sudah dijadikan simbol keberhasilan pendidikan di daerah tersebut. Karena mengutamakan simbol ini, praktek tidak terpuji sudah mulai muncul. Dalam olimpiade sains nasional di Jakarta tahun 2005 salah seorang joki tertangkap saat olimpiade berlangsung. Ia memakai nama palsu seolah-olah sebagai pembina salah satu tim di propinsi wilayah timur dengan maksud bisa memperjuangkan para siswa dari tim tersebut bisa meraih angka tinggi dalam olimpiade. Ternyata yang bersangkutan dikenal sebagai seorang dosen bergelar doctor di perguruan tinggi negeri terkenal di Jakarta.

Sifat ini tidak seharusnya terjadi. Olimpiade tidak merepresentasikan kemajuan pendidikan suatu daerah atau kemajuan pendidikan bangsa kita. Yang meraih prestasi dalam olimpiade hanya satu dua orang siswa yang telah dilatih secara khusus dan ketat dalam waktu yang lama bahkan sampai mengesampingkan pelajaran-pelajaran lain di sekolah. Padahal jumlah siswa di Indonesia yang masih berada pada tingkat kemampuan yang sangat rendah ada puluhan juta orang. Prestasi emas dalam IPhO bukan berarti taraf pendidikan negara kita sudah sejajar dengan negara yang lebih maju. Ini salah kaprah. Presetasi emas itu hanya diraih oleh siswa yang telah ditraining secara khusus dengan dana cukup besar dan dalam waktu yang cukup lama (bisa sampai setahun). Tetapi puluhan juta siswa lainnya masih berada pada tingkat pendidikan yang sangat rendah.

Pelajaran yang diambil dari pelaksanaan olimpiade sebenarnya hanya satu. Siswa-siswa kita memiliki potensi. Apabila dibina secara baik maka mereka dapat meraih prestasi yang sama dengan siswa di negara yang lebih maju. Pembinaan secara baik ini bermakna perbaikan sistem pendidikan termasuk penyediaan anggaran pendidikan yang cukup. Jika tidak dilakukan kita hanya melihat siswa-siswa kita berhasil meraih emas di olimpiade sementara tingkat pendidikan kita makin terpuruk. Jangan sampai desas-desus yang muncul sekarang adalah benar, yaitu keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade ini semata-mata ingin memperlihatkan bahwa Indonesia juga memiliki prestasi, karena tidak ada lagi prestasi lain yang bisa diperlihatkan kepada dunia.

Ini sekedar informasi tambahan, seperti apa sih hasil olimpiade yang selama ini sering kita banggakan. Contohnya pada Olimpiade Astronomi ke-13 di Trieste, Italias tahun 2008. Beserta berasal dari 17 negara dengan julah peserta: 49 peserta senior dan 44 pesrta junior (jumlah peserta 93 orang)
Pemenang medali emas (Diploma I), untuk senior: 7 orang dan untuk junior: 7 orang
Pemenang medali perak (Diploma II), untuk senior: 10 orang dan untuk junior: 10 orang
Pemenang medali perunggu (Diploma III), untuk senior: 10 orang dan untuk junior: 13 orang
Pemenang khusus: (special Diploma), 8 orang

Jadi total emas: 14
Total perak: 20
Total perunggu: 23
Totap pemenang: 65 orang dari 93 peserta

Dalam olimpiade ini Indonesia meraih satu perak (Diploma II) dan satu perunggu (Diploma III).

Melihat persentase pemenang yang begitu banyak, masih bergengsikah lomba-lomba seperti ini.

Di mana peserta diinapkan? Hanya di Guest House (Adriatico Guest House). Beda kalau olimpiade itu dilaksanakan di Indonesia. Penginapannya pasti hotel berbintang 5. Sungguh bangsa ini sangat menghormati tamu, meskipun tamu untuk acara yang tidak terlalu penting.

Masihkan kita melihat Olimpiade sebagai kegiatan bergengsi?

Proses Belajar yang Baik (Karya Ilmiah)

Sebenarnya ini udh pernah diposting sebelumnya. Tapi, karena waktu itu aku lagi sibuk, jadi postingannnya cukup jelek dan nggak enak dibaca. Nah, pada postingan inilah perbaikannya, intinya dibuat ulang (bukan di-edit).

Ini merupakan karya ilmiah pertamaku pada saat tugas pelajaran bahasa Indonesia waktu SMP dulu. Proses pembuatannya nggak lama, kurang-lebih satu bulan. Oh iya, tulisan ini murni hasil pikir gw sendiri. Ditambah beberapa sumber untuk memperkuat argumenku sih. Jadi maaf kalo isinya jelek.

Gambaran Singkat :
– Manfaat belajar
– Definisi belajar
– Faktor pendukung belajar
– Cara belajar yang baik


BAB I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Banyak pelajar yang merasa kesulitan dalam belajar. Hal itu dapat menimbulkan kebosanan dan kadang menimbulkan depresi bagi dirinya sendiri.  Kebosanan dan depresi tersebut dapat membuat pelajar menjadi jadi malas belajar. Jika malas, tentu akan mengalami kegagalan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kesulitan dalam belajar berpotensi besar untuk menghalangi kita menuju kesuksesan.

Setelah diteliti, ternyata masih banyak pelajar yang belajar dengan cara yang salah, seperti belajar dengan menghapal konsep (Low Thinking Order). Padahal, jauh lebih baik apabila belajar dengan memahami konsep, mengembangkan nalar, memecahkan masalah, dan berpikir logika (High Thinking Order). Parahnya, banyak pelajar yang berprinsip “belajar untuk ujian”, yang jelas-jelas merupakan kesalahan besar.

Permasalahan yang diambil disini adalah pelajar yang menggunakan cara belajar yang salah, seperti beberapa contoh  yang sudah dipaparkan. Dalam pemecahan masalahnya, diharapkankan pelajar mengetahui cara-cara belajar yang baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa manfaat belajar?
1.2.2 Apa definisi belajar?
1.2.3 Apa faktor-faktor pendukung belajar?
1.2.4 Bagaimana cara belajar yang baik?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.3.1 Tujuan Penulisan

Tujuannya adalah mengajak pelajar untuk belajar dengan cara yang baik. Selain itu, tujuannya adalah untuk memberitahu berbagai macam hal yang berhubungan dengan belajar baik di sekolah maupun di rumah.

1.3.2 Manfaat Penulisan

Manfaatnya agar pelajar tidak lagi kesulitan dalam belajar sehingga dapat meraih kesuksesan dengan mudah.

1.4 Kerangka Pemikiran

“Kita tidak berpikir dengan cara linear berurutan, namun setiap informasi yang disampaikan pada kita diberikan pada kita dengan cara linear…. kita diajari untuk berkomunikasi dalam cara yang sebenarnya membatasi kemampuan berpikir kita” – Richard Saul Wurman, Information Anxiety

“Kegilaan adalah ketika orang melakukan suatu hal yang sama, tetapi menginginkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein

Dua kutipan tersebut sangat berhubungan dengan apa yang dibahas. Yaitu mengenai cara belajar yang lebih baik dan inovatif sehingga dapat mencapai kesuksesan.

1.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam karya ilmiah ini, data dikumpulkan melalui sumber kepustakaan, yaitu berupa bahan-bahan bacaan seperti kamus, buku, koran, atau majalah. Selain itu, data juga dikumpukan dengan menjelajahi internet.

BAB II : Pembahasan

2.1 Manfaat Belajar

Sebagian orang berpendapat bahwa tingkat kepintaran manusia sudah diciptakan sejak manusia lahir. Ya, memang. Bakat manusia sudah diciptakan sejak manusia lahir. Tapi bakat tersebut masih bernilai nol karena masih belum terlihat. Artinya, bakat sejak lahir hanya merupakan potensi saja. Bakat akan terlihat apabila dikembangkan, diasah, dan dilatih. Dengan kata lain, belajar akan mengembangkan bakat.

Otak merupakan sistem saraf pusat yang memiliki jutaan neuron. Banyak informasi yang tersimpan di neuron. Ketika otak bekerja untuk bernalar, memahami, dan menyimpan informasi, maka dendrit yang terdapat di neuron yang bentuknya bercabang-cabang akan meningkat jumlahnya. Sebaliknya, ketika otak tidak dipergunakan, maka neuron akan memangkas dendrit-dendrit tersebut sehingga berkurang jumlahnya.

” Sebuah penelitian yang menyatakan bahwa otak adalah suatu organ yang dinamis : Jaringannya secara terus menerus dimodifikasi sebagai reaksi dari informasi, kebutuhan, dan perubahan dalam lingkungan.”
(Carole Wade, Psikologi : Edisi 9 Jilid 1)

Di zaman yang maju ini, penuh dengan kompetisi. Dimana orang yang tidak berilmu akan  merasa kesulitan dalam hidupnya. Maka dari itu, belajar sangatlah penting, baik formal maupun informal. Belajar mengajak kita untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah.

Perlu diingat, tidak ada kata “tidak bisa” dalam belajar. Banyak tokoh-tokoh dunia yang pada saat kecil dianggap bodoh dan tidak waras. Contohnya, Einstein dan Thomas Alfa Edison. Pada saat Einstein kecil, orang-orang di sekelilingnya mencapnya sebagai orang bodoh. Bahkan, Thomas Alfa Edison dikeluarkan dari sekolahnya sewaktu SD karena terlalu bodoh. Tapi sekarang ini, Einstein dikenal sebagai Bapak Fisika Modern dan Thomas Alfa Edison adalah ilmuan fisika yang paling banyak menemukan penemuan.

2.2 Definisi Belajar

Belajar adalah proses memahami yang mengakibatkan perubahan yang relatif permanen yang tidak bisa dilihat secara langsung (masih berupa potensi) maupun bisa dilihat dari perubahan tingkah laku. Belajar dapat berupa pengalaman, pengamatan, eksperimen, praktik, mengingat, diajari individu lain, membaca, dan lain-lain. Terkadang, belajar dapat menimbulkan perasaan bangga dalam diri sendiri karena paham dan mengerti apa yang dipelajari.

Apakah menghapal termasuk dalam kategori belajar?

Menghapal dapat digolongkan dalam belajar maupun tidak. Karena menghapal dapat memberikan perubahan bagi kita. Namun, apakah dengan cara menghapal kita bisa mengingat informasi secara permanen? Secara umum, mengapal dilakukan dengan cara mengingat kata perkata dan berurutan. Otak besar manusia terbagi 2, yaitu otak kiri dan otak kanan. Informasi berupa kata dan berurutan diproses oleh otak kiri karena otak kiri memang berfungsi untuk memproses informasi berupa angka, kata, berurutan, dan logika. Sedangkan otak kanan berfungsi untuk memproses informasi berupa gambar, musik, acak-acak, dan imajinatif. Otak kiri bersifat ‘short-term memory ‘ (memori jangka pendek), sedangkan otak kanan bersifat ‘long-term memory’ (memori jangka panjang).

Telah diketahui bahwa  belajar mengkibatkan perubahan yang relatif permanen. Jadi, menghapal tidak digolongkan dalam belajar apabila tidak menghasilkan perubahan yang relatif permanen. Dengan kata lain, menghapal tidak termasuk belajar apabila dilakukan dengan mengingat angka dan kata yang berurutan (diproses oleh otak kiri). Sebaliknya, menghapal termasuk dalam belajar apabila dilakukan dengan mengingat dengan gambar, suara, dan imajinatif. Mengahapal dengan menggunakan otak kanan dilakukan dengan cara-cara tertentu yang akan dibahas pada subbab selanjutnya.

Selanjutnya, mari kita bahas landasan teori sebelumnya di dalam karya ilmiah ini :

“Kita tidak berpikir dengan cara linear berurutan, namun setiap informasi yang disampaikan pada kita diberikan pada kita dengan cara linear…. kita diajari untuk berkomunikasi dalam cara yang sebenarnya membatasi kemampuan berpikir kita” – Richard Saul Wurman, Information Anxiety

Artinya, kita tidak bisa  belajar dengan menerima informasi secara datar dan berurutan. Contohnya, belajar dengan mendengarkan orang berceramah, membaca buku yang penuh dengan tulisan tanpa gambar, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan bertentangan dengan cara kerja otak manusia  yang bersifat meluas, abstrak, dan acak-acak. Sehingga kita memerlukan cara belajar yang terbaru (baik) yang dapat selaras dengan cara kerja otak kita.

“Kegilaan adalah ketika orang melakukan suatu hal yang sama, tetapi menginginkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein

Dalam hal belajar, hal ini berarti jika kita ingin mendapatkan hasil yang lebih baik maka kita harus mengubah gaya belajar dan strategi belajar yang inovatif dan lebih baik. Dengan kata lain, gaya belajar merupakan faktor penting dalam belajar yang akan dibahas pada subbab selanjutnya.

2.3 Faktor-Faktor Pendukung Belajar

Sebelum membahas gaya belajar, lebih baik membahas tentang kondisi dan lingkungan belajar. Lingkungan belajar sangat penting untuk diketahui, bahkan lebih penting daripada gaya-gaya belajar. Hal ini dikarenakan otak tidak bisa berproses dengan baik pada lingkungan belajar yang buruk.

Kita tidak dapat belajar dalam keadaan tertekan, emosi tidak stabil, stres, pikiran kacau, dan berpikiran negatif. Hal itu menghambat otak untuk berpikir lebih luas dan kreatif. Jadi, jika ingin belajarnya baik, tenangkanlah diri sebentar untuk menstabilkan diri.

Cara yang digunakan untuk menenangkan diri pada saat sedang stres ada banyak. Namun, ada sebuah cara yang disukai oleh penulis dalam menenangkan diri. Caranya adalah mengatur pola pernapasan atau lebih dikenal sebagai ‘meditasi’. Mengapa demikian? Coba perhatikan pada saat manusia sedang marah (emosi tidak stabil). Yang terlihat adalah pola pernapasannya menjadi tidak teratur. Sebaliknya, coba perhatikan pada saat manusia dalam keadaan biasa saja, maka pola pernapasannya akan menjadi sangat teratur. Meditasi sungguh sangat bermanfaat terutama untuk merelaksasikan diri. Penelitian mempercayai ingatan, perhatian, dan fokus merupakan keuntungan dari meditasi.

Proses pola perpasan yang baik adalah pola pernasan yang bisa membuat manusia tersebut menjadi nyaman. Boleh dengan bernapas panjang, bernapas sedang, ataupun bernapas pendek. Hal tersebut dilakukan sambil memfokuskan diri ke pernapasan tersebut. Suatu penelitian menunjukkan membiasakan diri dalam bermeditasi dapat memperbesar ukuran ‘cerebral cortex’ pada otak.

Hal itu merupakan cara mengatasi jika merasa tertekan dalam belajar. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Jadi bagaimana cara mencegahnya? Sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu apa penyebab kita menjadi tertekan dalam belajar.

Secara umum, hal yang dapat membuat kita menjadi tertekan dalam belajar dapat terbagi menjadi 2, yaitu :
1. Lingkungan fisik
2. Lingkungan sosial

Lingkungan fisik contohnya adalah suhu udara, pencahayaan, tingkat kebisingan, dan rangsangan visual. Sedangkan lingkungan sosial contohnya adalah hubungan dengan orang lain, merasa ikut atau tidak diikutsertakan, dan komunikasi.

“Iklim dan lingkungan ruang kelas harus kondusif untuk pembelajaran. Ruang kelas, yang secara fisik tidak nyaman atau terus memiliki atmosfir atau nada yang mengancam, akan meminimkan kemampuan otak para siswa untuk berpotensi pada potensi yang tertinggi. Pemahaman beberapa riset terbaru tentang bagaimana otak kita bereaksi terhadap stres dan ketakutan dapat menolong para guru untuk mengetahui apa yang harus tidak dilakukan dan mulai tahu apa yang harus dilakukan.”
(Kaufeldt 1999, 2)

Jelas bahwa ancaman, tekanan, dan kondisi lingkungan yang buruk dapat menurunkan kemampuan otak. Ketika itu, hampir semua otak manusia menjadi berkurang kemampuannya untuk melakukan salah satu dari hal-hal berikut untuk :
– Menjadi kreatif
– Melihat atau mendengar petunjuk tanda dari lingkungan
– Mengingat dan masuk pembelajaran sebelumnya
– Melakukan tugas-tugas yang kompleks, pemikiran yang terbuka, dan bertanya
– Memilah dan menyaring untuk membuang keluar data yang tidak berguna
– Merencanakan dan mengulang berlatih secara mental
– Mengenali pola-pola
– Berkomunikasi dengan efektif

Menciptakan lingkungan yang aman dan terjamin secara fisik, emosional, dan sosial, harus menjadi langkah pertama dalam memaksimalkan pembelajaran.

Bagaimana cara mencegahnya? Berikut adalah pencegahan permasalahan lingkungan dalam belajar :

Lingkungan Fisik


Cahaya yang paling baik untuk belajar adalah cahaya yang berasal dari matahari. Oleh karena itu, belajar di tempat terbuka adalah cara yang terbaik. Tapi apabila tidak memungkinkan, belajar mandiri dengan menggunakan lampu belajar juga baik agar kita fokus terhadap buku yang kita baca. Jika belajar di sekolah, lebih baik memakai cahaya matahar. Namun, jika masih gelap, gunakan lampu neon dengan jumlah yang cukup.


Jika belajar mandiri, usahakan menjauhkan diri dari keramaian orang. Bunyi-bunyi mengganggu yang berasal dari alat-alat listrik juga perlu dihindari. Namun, bagaimana jika di sekolah? Guru dan ketua kelas harus mampu membuat kelas menjadi tenang (tidak bising). Selain itu, diharapkan juga dapat melarang bernyanyi dan bermain alat musik di ruang kelas umum. Sebaiknya, bermusik dilakukan di kelas musik atau kesenian (jika ada).

Rangsangan Visual

Lingkungan belajar harus tertata dengan rapi. Meja belajar dan rak buku juga harus rapi. Selain itu kebersihan dan keindahan perlu diperhatikan. Warna dapat mempengaruhi emosi bagi sebagian orang. Warna juga dapat merangsang kreativitas dan berpikir sebagian orang. Jadi, gunakan buku-buku berwarna dan alat tulis berwarna untuk merangsang berpikir.

Suhu dan Kualitas Udara

Di Indonesia, permasalahan yang dihadapi berupa suhu udara yang panas. Pada saat belajar mandiri, gunakan AC (Air Conditioner) selama proses belajar (jika ada). Tanam tanaman yang dapat menyegarkan udara di ruangan baik di halaman rumah ataupun di sekolah. Jika ruangan sekolah tersebut tertutup, maka gunakan AC. Usahakan gunakan pengharum ruangan juga karena bau dapat mengganggu belajar.

Kebutuhan-Kebutuhan Dasar

Contohnya minum, makan, dan buang air. Minum dapat membuat otak menjadi kembali segar. Buang air kecil atau besar pada saat waktunya juga akan membantu proses belajar agar nyaman. Melarang pelajar untuk buang air besar atau kecil dapat membuat pelajar tersebut tidak nyaman dalam belajar.

Lingkungan Sosial

Tidak Saling Bersaing

Rasa persaingan dapat mengecilkan luas pandang berpikir. Belajar yang baik adalah belajar tanpa ada persaingan. Saling membantu dan bekerjasama dalam belajar adalah cara terbaik.

Merasa Diikutsertakan dalam Suatu Kelompok Sosial

Membuat kelompok belajar dapat membuat seseorang merasa diikutsertakan. Hal itu dapat mengembangkan kemampuan belajar dan kreativitas. Sama halnya dalam berdiskusi, guru harus mampu membuat setiap pelajar merasa diikutsertakan. Caranya adalah dengan membuat kelompok diskusi. Di sini, diharapkan guru dapat membagi anggota kelompok berdasarkan keahliannya masing-masing dan dapat mengaktifkan peran serta setiap anggota dalam kelompok tersebut.

2.4 Cara Belajar yang Baik

Niat adalah hal yang penting sebelum belajar. Sebelumnya, kita sudah tahu bahwa dalam belajar kita harus bebas dari segala tekanan dan paksaan. Temukan waktu yang cocok sehingga nyaman dalam belajar.

Kepercayaan diri juga mempengaruhi proses belajar. Kita harus yakin bahwa kita bisa menguasai apa yang kita pelajari. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita tidak bisa dan tidak mampu karena pepatah mengatakan apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi. Oleh karena itu, hendaknya harus berpikir positif.

Cara yang cukup efektif dalam meningkatkan percaya diri dalam belajar bagi penulis adalah dengan mengasumsikan bahwa kita ahli dalam hal apa yang kita pelajari. Misalnya, pada saat kita belajar bahasa Jepang, kita harus memikirkan bahwa kita adalah orang jepang yang sangat mahir berbahasa Jepang. Sehingga kita dapat berpikir positif yang membawa dampak positif bagi pembelajaran kita.

Belajar yang baik adalah belajar dengan memahami apa yang dipelajari, bukannya menghapal apa yang dipelajari. Memahami memang terasa lebih sulit daripada menghapal. Hal itu disebabkan karena dalam memahami, kita harus memikirkan hubungan dari suatu persoalan dengan pengalaman kita, berimajinasi, berpikir logika, lalu menarik kesimpulan. Hal tersebut memerlukan proses yang cukup lama. Sedangkan dalam menghapal, kita hanya mengingat kata-kata yang dihapal tanpa perlu masuk ke persoalan.

Tapi, apa perbedaan dari hasil proses memahami dan menghapal? Dengan memahami kita mendapat informasi yang bersifat relatif permanen. Sedangkan dengan menghapal belum tentu informasi tersebut akan tersimpan relatif permanen.

Dari hal tersebut, kita harus bisa mendapatkan informasi dari sumber yang bersifat mengajarkan untuk memahami. Menurut penulis, ini adalah masalah terbesar bagi Indonesia, yaitu menemukan sumber informasi yang berkualitas, termasuk dalam hal buku teks, guru, dosen, dan lain-lain. Saran dari penulis, jika ingin menggunakan buku teks yang berkualitas, dapat dicari dengan melihat biografi penulis buku tersebut khususnya riwayat pendidikannya. Jika biografinya bagus, kemungkinan besar kualitas buku tersebut juga bagus.

Belajar yang baik juga dapat dilakukan dengan mendalami suatu permasalahan. Semakin dalam permasalahan yang kita pelajari, maka kita semakin menguasai permasalahan tersebut. Jika hanya memahami garis besar suatu permasalahan, kita tidak akan dapat menguasai permasalahan tersebut. Sebagai contoh, pada pelajaran IPA yang membahas tentang matahari. Jika kita hanya memahami informasi umum pada matahari, mungkin kita masih belum bisa menguasai materi tersebut. Namun, jika kita memahami informasi-informasi umum dan khusus, serta bagaimana proses cara mendapatkan informasi tersebut, kemungkinan besar kita dapat menguasai materi tersebut.

Sama seperti proses memahami vs menghapal. Mendalami permasalahan juga membutuhkan waktu yang cukup lama dan lebih sulit daripada hanya sekadar mengetahui garis besar permasalahan. Pesan dari penulis, jangan pernah patah semangat dalam belajar. Kita harus tetap bersemangat dan bersabar. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapat hasil yang cukup memuaskan apabila kita belajar dengan bersabar.

Dalam belajar, kita juga harus kreatif. Misalnya, dalam pelajaran matematika. Permodelan beberapa soal matematika biasanya terdapat kemiripan. Dengan begitu kita harus dapat menemukan cara menyelesaikan model soal yang sama dengan mudah, yaitu membuat rumus-rumus baru sesuai model soal tersebut.

Bagaimana jika kita merasa sulit untuk memahami suatu persoalan? Jika begitu, maka caranya adalah dengan menghapalnya. Namun, menggunakan cara menghapal yang berbeda dengan biasanya agar dapat menyimpannya secara relatif permanen. Berikut beberapa metode yang baik dalam menghapal :

Metode Chunking

Bagaimana cara anda menghapal nomor HP anda? Pasti, dengan memisahkannya menjadi beberapa bagian, kan? Kira-kira seperti itulah gambaran dari metode chunking. Metode ini berfungsi untuk menghapal konstanta fisika atau matematika yang berisi angka panjang. Contohnya, nilai konstanta gravitasi adalah 6,67035 x 10-11. Dengan menggunakan metode chunking, kita dapat memisahkan angka-anga tersebut sesuai keinginan kita. Misalnya, 6,67-0-35-10-11. Sehingga lebih mudah menghapalnya dibandingkan dengan sebelum dipisahkan.

Mencatat dengan Pulpen Berwarna

Informasi yang sangat sulit untuk dipahami dapat dihapal dengan mencatatnya dengan pulpen berwarna. Warna dipercaya dapat merangsang kerja otak kanan. Variasi warna yang baik dapat membantu mengorganisir informasi lebih baik.

Metode Asosiasi

Untuk menyimpan informasi secara relatif permanen dapat juga dilakukan dengan metode asosiasi. Metode asosiasi adalah menyamakan beberapa kata dengan kata-kata yang lain yang memiliki persamaan bentuk kata, lalu membuat akronimnya sehingga mudah dihapal. Contohnya, dalam pelajaran IPA kita belajar tentang struktur jaringan batang atau akar tumbuhan. Struktur jaringannya dari luar ke dalam, yaitu epidermis, korteks, endodermis, perisikel, floem, kambium, xylem, empulur. Tentu, jika kita menghapalnya secara biasa, maka suatu saat kita dapat melupakannya. Namun, dengan menggunakan metode asosiasi, kita dapat menyimpan informasi tersebut secara permanen. Caranya, epidermis = e, korteks =kor, endodermis = endo, perisikel = persis, floem = paha, kambium = kambing, xylem = siiy, empulur = em. Jika akroronim tersebut digabung, maka menjadi “EKor Endo Persis Paha Kambing SiiyEm”. Kelebihannya, dengan mengingat kalimat tersebut, kita dapat mengingat struktur jaringannya secara permanen.

Contoh lainnya adalah jika kita ingin mengingat unsur kimia golongan I-A, yaitu : Hidrogen (H), Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Sesium (Cs), Fransium (Fr). Dengan menggunakan metode asosiasi, kita dapat mengubahnya menjadi “Hari LIbur NAik Kuda RaBu CamiS FRee (Hari libur naik kuda rabu kamis free)”.

Selain memudahkan kita untuk mengingat, metode asosiasi juga mengajak kita untuk berpikir kreatif dalam membuat asosiasi. Menurut penulis, semakin aneh kalimat asosiasi yang dibuat maka semakin mudah untuk mengingat asosiasi tersebut. Jadi, mari berpikir kreatif!

Begitulah metode menghapal yang digunakan penulis. Namun, perlu diingat, metode menghapal ini hanya digunakan ketika kita tidak sanggup untuk memahaminya dan sangat sulit untuk mengingat informasi tersebut.

BAB III : Penutup

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Selain itu, belajar dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan cara yang menarik. Cara-cara tersebut dapat meningkatkan hasil yang kita peroleh dalam belajar. Beberapa faktor-faktor pendukung belajar juga sangat penting. Hal tersebut membantu kita agar belajar secara nyaman dan tanpa tertekan (stres).

3.2 Saran

Saran dari penulis adalah jangan pernah menyerah  dan putus asa dalam belajar. Tetap bersemangat dan terus belajar. Mengembangkan berbagai macam kreativitas dalam belajar. Dan memiliki gaya belajar yang lebih menarik. Semakin banyak kita menggunakan berbagai gaya belajar, maka semakin banyak yang akan dikuasai dari apa yang dipelajari.

Mengukur Tinggi Pohon atau Benda Tinggi Lainnya dengan Cara Sederhana

Mungkin pekerjaan ini terkesan seperti pekerjaan orang bodoh ya, kurang kerjaan mengukur tinggi pohon dan blablabla. Tapi mungkin ini sedikit berguna cthnya memperkirakan tinggi pohon utk melompat kalo dikejar anji*g, menentukan berapa panjang galah utk mengambil buah dari pohon tersebut, dll. Dan jgn salah, ini pernah dijadikan soal di sebuah buku fisika. Kreatif sekali soalnya xD

Dlm hal ini, kamu nggak perlu mengukur tinggi pohon dgn memanjatnya sampai ke ujungnya. Jadi gimana cara mengukurnya? Disini kita mengukur secara tidak langsung dgn menggunakan prinsip KESEBANGUNAN SEGITIGA. Tapi yg perlu diingat, ini cuma sebatas teori abal-abalku doang dan belum pernah dipraktikkan. Jadi jangan kecewa kalo pada akhirnya gagal. XD

Alat yang perlu disiapkan sederhana, cuma butuh tongkat yg agak panjang dan meteran gulung. Begini cara mengukurnya : ambil posisi yg agak jauh dari pohon itu, lalu tancapkan tongkat di tanah, arahkan ujung tongkat itu TEPAT di ujung pohon yg diukur, sehingga terbentuk sudut antara tanah dengan tongkat. Agar lebih jelas perhatikan gambar berikut.


Gunakan meteran utk mengukur x, y, dan jarak antara pohon dan tongkat. Bandingkan sisi yang sebanding dengan teori kesebandingan 2 segitiga, dan pada akhirnya didapat tinggi pohon itu.

Beberapa pertanyaan penting :

Kenapa tongkat harus tepat diarahkan ke ujung pohon?
Supaya kita bisa menggunakan metode perbandingan. Nah, coba bayangin apa yg terjadi kalo kamu arahin ke tengah pohon misalnya.

Kenapa jarak tongkat dgn pohon dibuat agak jauh?
Biar gampang ngarahin ujung tongkat ke ujung pohonnya.

Kenapa tongkat harus agak panjang?
Agar kesalahan pada saat mengarahkan tongkatnya lebih kecil.

Apa pengukuran ini dijamin benar?
Nggak tau, tapi aku harap semoga berhasil!!

Hilman ^_~

Deck Dragonic Overlord “The Rebirth”

Sekarang, Anime Cardfight Vanguard Season 4 udh keluar, yang memperkenalkan jenis skill terbaru yang namanya Legion. Seperti yang sdh aku lihat, kartu berskill legion memang cukup hebat. Walaupun begitu, bukan berarti unit yg tidak memiliki legion kalah dengan yang memiliki legion, khususnya clan kagero.

Clan kagero adalah clan yang fokus dengan me-retire, stand berulang-ulang, dan menaikkan power. Itulah yang membuatku suka dengan klan ini. Apalagi, sekarang udh muncul BT15 yg berisi kartu kagero yang hebat, contohnya evolusi dari dragonic overlord, yaitu Dragonic Overlord the rebirth dan dragonic overlord (break ride).

Ok, kali ini aku membuat deck kagero jenis Dragonic Overlord the Rebirth. Modalnya sih cuma BT15 dan EB9. Deck ini udh pernah kucoba dan menurutku ini sangat bagus. Ini dia listnya :

Grade 0 :
1x Red Pulse Dracokid / Lizard Soldier, Conroe (starter) (kalo dibolehkan starternya conroe, conroe lebih baik)
12x Critical trigger
4x Heal trigger
Grade 1 :
4x Dragon dancer, maria (perfect guard)
4x Dragon monk, gojo
3x Eternal Bringer Griffin
2x Lizard soldier, grom
2x violence horn dragon
Grade 2 :
3x Bellicosity dragon
2x berserk dragon
2x dragon dancer, arabella
3x dragonic burnout
Grade 3 :
4x dragonic overlord (break ride)
4x dragonic overlord “the rebirth”

Ok, pertama aku akan mulai dari mengapa aku pakai Dragonic Overlord the Rebirth. Banyak yang bilang, dragonic overlord the end lebih bagus daripada the rebirth. Coba kita bandingkan mereka :
Dragonic Overlord the Rebirth
[ACT](VC) Limit Break 4 (This ability is active if you have four or more damage):[Counter Blast (1) & Choose one of your «Kagerō» rear-guards or more, and lock them] If the number of locked cards you have is five or more, until end of turn, this unit gets [Power]+10000, and “[AUTO](VC):[Choose two «Kagerō» from your hand, and discard them] At the end of the battle that this unit attacked a vanguard, you may pay the cost. If you do, [Stand] this unit. This ability cannot be used for the rest of that turn. (This ability cannot be used even if the cost is not paid.)”.
(The locked card is turned face down, and cannot do anything. It turns face up at the end of the owner’s turn.)
[CONT](VC):If you have a card named “Dragonic Overlord” in your soul, this unit gets [Power]+2000.
[CONT](VC/RC): Lord (If you have a unit without a same clan as this unit, this unit cannot attack)
Dragonic Overlord the End
[CONT](VC/RC):If you have a non-«Kagerō» vanguard or rear-guard, this unit gets [Power]-2000.
[CONT](VC):If you have a card named “Dragonic Overlord” in your soul, this unit gets [Power]+2000.
[AUTO](VC):[Counter Blast (2) & Choose a card named “Dragonic Overlord the End” from your hand, and discard it] When this unit’s attack hits, you may pay the cost. If you do, [Stand] this unit.
Kalau dipikir-pikir, the End lebih baik karena skillnya tidak me-lock rear-guard, sehingga bisa menyerang lebih banyak daripada menggunakan the rebirth. Nah, coba kalo the rebirth, lock 5 unit, cuma powernya +10000, terus skillnya sama aja kayak the end. Bayangkan aja, kamu menggunakan skill the rebirth, tapi pada akhirnya diguard semua pakai perfect guard. Rasanya kesal, kan? Nah, sekarang mari kita lihat apa cost yang harus dibayar supaya bisa dapat skillnya.
The rebirth : counter-blast 1, lock 5, discard 2
The end : counter-blast 2, discard 1 “the end” (persona blast)
Kalau lock 5 disamakan dengan powernya +10000, aku lebih milih the rebirth. Kalau the end, masalahnya ada di counter-blast yang terlalu banyak, misalkan kita melakukan cross break ride dgn the end, maka memerlukan cb 3. Terus, persona blast juga payah, peluang gunakan skillnya jadi kecil, nggak bisa gunakan skillnya berulang-ulang. Bisa jadi, waktu kamu break ride kamu nggak gunakan skill the end karena nggak bisa persona blast, break ridenya jadi nggak bisa dimanfaatkan secara maksimal kan?
Terus, jika kamu ngelawan deck link joker, maka the rebirth jadi pilihan paling tepat, karena pada dasarnya kamu memang mau nge-lock rear-guardmu.
Terus lock 5 juga memberikan keuntungan, kamu bebas meletakkan rear guard ke tempat yang kamu mau. Mau rear guardmu grade 3 semua nggak masalah, karena pada akhirnya dilock.
Jadi kesimpulanku, the rebirth lebih unggul dari the end.

Sekarang, aku akan menjelaskan mengapa susunan decknya seperti itu :
Mengapa pakai dracokid? Padahal itu kartu biasa aja? Itu karena di deck ini, semakin banyak dapat overlord, semakin bagus, asalkan tidak missing grade. Overlord akan terus menerus direcycle. Contoh combonya : pakai skill griffin/perfect guard, lalu gunakan skill burnout, lalu gunakan skill griffin agar overlord tdk berada di bawah dari deck. Terus, ini selalu meningkatkan kemungkinan kamu akan melakukan break ride.
Critical 12 itu wajib. Biar bisa mendesak damage lawan.
Heal? Nggak perlu dijelasin

Aku lebih milih perfect guard daripada quintet wall, karena kamu bakal kehabisan kartu di deck apabila pakai quintet wall. Terus counter blastnya juga cukup merugikan.

Tips, skill gojo dan arabella cocok digunakan waktu kamu akan menggunakan skill the rebirth. Mengapa aku nggak gunakan vanilla grade 1 atau grade 2? Di deck ini, power tidak diutamakan, toh pada akhirnya dilock XD

Deck ini cukup banyak yang menggunakan counterblast, jadi bellicosity dan grom cukup perlu. Lagipula, soul blast juga jarang digunakan, makanya aku pakai grom untuk manfaatkan ruang yang ada. Power grom terlalu rendah? Sekali lagi kukatakan, pada akhirnya mereka dilock XD

Sebenarnya aku nggak punya alasan gunakan violence, kalo nemu yg lebih bagus, gantikan aja. Tapi aku nggak menemukannya.

Berserk itu hebat, jadi nggak ada alasan tidak gunakannya. Begitu juga dengan dragonic overlord break ride. Break ride paling hebat tuuh.

Ok, spertinya udh cukup. Hampir semua, kartu ini berasal dari bt15 dan EB09, kecuali arabella. So, cara dapetin kartunya gampang banget. Selamat mencoba! Let’s fight!

%d bloggers like this: