Thinking by Understanding

I remember when I learned atomic structure in chemistry on the first grade of SMA. I was completely clueless about the material. What is Wien’s displacement? What is photoelectric effect? How is atomic model found? What is Brackett series? What is the reason of electron configuration and quantum number being used? What is the interconnection of each subtopics? I received random information which I had to memorize without consideration. Back then, I never realized why the information could be like that, how it could come like that, or what benefits I could get from learning it. I just memorized it since the teachers (from inside and outside my school) never explained those things in detail, they just asked me to memorize it. But surprisingly, I forget about it now (two years later). In my opinion, we can easily forget something when we haven’t processed them well in our brain, in this case, we only memorize, not understand it. So, the solution of this problem is simply understanding the information. But, how can we apply the understanding skill into our thinking? We get used to just memorizing something since primary school. We ‘love’ memorizing. We ‘love’ getting instructed and prohibited by our teachers and parents without knowing the object. We ‘love’ thinking simply and conveniently. Probably, we don’t realize them, but we do.

I am really glad by the presence of curriculum 2013. I think it is the best tool to revolutionize our thinking, so that we get used to thinking by understanding. But, it is impossible to execute well curriculum 2013 because it is confusing about what methods the teachers must carry out. We need professor-level teachers to do so. Perhaps, I talk too far. To specify, I will give example for what makes us ‘love’ thinking simply and conveniently. It is not entirely our fault. It is the education system too. The system gives standardization to us by the problem that we solve in the school exam. Consequently, it is not rare that the teacher just focus to explain the problem solutions as many as possible to make us to get used to solving the problem in the exam. Yes, we can solve the problems by this, but we understand nothing about the material concept we learned. Another example, I’ve been learning by using booklet as the primary book in my school. It is a small book made by some pieces of HVS paper. It contains one topic that has a summary of random information (which the connection of each subtopics is not given) with less explanation and less figural illustration. In my opinion, the book compels me to blindly memorize the content. It can be tolerated if we use it as a secondary book, but the teacher use it as a primary book instead of a secondary one. I think this is what makes we ‘love’ memorizing.

I have some suggestion to get used to thinking by understanding so that we can remember well the information :
1. Always put “Why?” question on every information you get
2. Never memorize the things that you don’t understand until you fully understand about it
3. Read books, browse on internet, or ask teacher about information you can’t understand

Advertisements

Kekuatan di Balik Ungkapan “Aku Pasti Bisa!”

Ya, ini memang cuma ungkapan yang terdiri dari tiga kata yang sederhana. Namun, aku percaya bahwa ungkapan ini punya kekuatan tersendiri. Kekuatan yang mampu mengangkatmu dari tempat tidur dan memaksamu untuk terus berusaha dan berlatih. Kekuatan yang dapat meningkatkan kepercayaan dirimu. Dan pada akhirnya, kekuatan ini mampu membawamu menggapai tujuanmu.

“Aku pasti bisa!”

Kelas Unggulan dan Kelas Biasa

Di Indonesia, hampir semua sekolah menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan kemampuan siswa. Biasanya, kelas secara umum terbagi menjadi dua jenis ; kelas unggulan, yang berisi siswa-siswa pilihan yang punya kemampuan belajar lebih tinggi dari siswa biasa ; dan kelas biasa, yang berisi siswa-siswa yang “dianggap” biasa.

Dulu aku berpikir, apakah pembagian kelas dalam sistem pendidikan ini sudah benar. Bukannya ini artinya seolah-olah ada ketidakikhlasan dalam pendidikan yang harusnya bertujuan mendidik siswa-siwanya secara keseluruhan. Bukannya ini dapat menciptakan suasana diskriminatif yang mungkin dapat menurunkan mental siswa-siswa yang “dianggap” biasa tersebut. Bukannya ini artinya pendidikan lebih difokuskan kepada orang-orang yang pintar saja. Kalau mereka beralasan mendidik siswa biasa berbeda dengan mendidik siswa pilihan, sehingga diperlukan pembagian kelas ; bukannya artinya mereka meremehkan siswa biasa tersebut.

Namun, semakin lama aku semakin sadar bahwa pendapatku tidak sepenuhnya benar. Ilmu bukan didapat dari kemampuan otak. Ilmu berasal dari usaha belajar yang dilakukan. Kemampuan otak hanya sedikit memengaruhi ilmu yang kita peroleh. Passion, semangat, dan tak pernah putus asa adalah faktor utama dalam proses belajar.

Kesimpulannya, menurutku pembagian kelas bukan bertujuan untuk membedakan siswa pintar dan bodoh, tetapi untuk memisahkan siswa rajin dan pemalas. Itu dikarenakan pemilihan siswa yang berasal dari nilai ujian memiliki arti bahwa siswa yang memiliki nilai tinggi disebabkan karena rajin, bukan karena pintar (kemampuan otak tinggi). Dengan sistem ini, diharapkan pola pikir dan semangat siswa yang rajin tidak dilunturkan oleh siswa yang pemalas.

Selain itu, juga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak selamanya siswa biasa akan terus tetap di kelas biasa. Itu karena biasanya akan ada perubahan kelas siswa di setiap tahun. Asalkan mempunyai semangat dalam belajar, keadaan akan berubah. Sehingga, kita dapat memandang pembagian kelas ini sebagai motivasi untuk meningkatkan semangat belajar.